Aku Sudah Muncul.

Penulis : Amatus.Rahakbauw.

Berita390 Views

Harianmerdekapost.com., – Pertemuan itu bermula di stasiun kota pada sore hari, seorang pria terburu-buru — buru-buru mengejar kereta yang sebentar lagi akan berangkat. Dia menabrakku, sakit, kaget, dan kesal. Dia hanya meminta maaf padaku dan langsung berlari. Raut wajahnya seperti kelelahan, napas tersengal akibat berlari, tidak sempat mengatur ritmenya.

Cuaca sore ini mendukung, seperti biasa aku naik ke lantai atas untuk menikmati suasana senja dari rooftop kafe. Burung yang lebih baik, bertengger di kabel listrik. Angin berhembus menerpa badanku, sesekali aku menghela napas panjang. Sudah begitu lama rasanya tidak melihat burung — burung menari, suasana senja hari ini membuat kenangan itu teringat lagi di kepalaku.

Hei, Ia menjatuhkan sesuatu . Saat aku ingin mengejarnya, tidak bisa. Pria itu sudah hilang di antara kerumunan orang. Sebuah flashdisk hitam dan kartu nama berdasar putih dan ada list biru tua, desain yang elegan. Tertulis nama ‘Raihan Derryl’ lengkap dengan alamat surel, dan nomor telepon. Aku memasukkan ke tas, langsung buru — buru berlari mengejar bus kota.

“ Ah, pertemuan kemarin sebenarnya menyenangkan atau mengganggu, sih? ” ujarku dalam hati, aku tersenyum licik membayangkan kejadian konyol beberapa hari lalu. Pria aneh.

“ menatap mata yang tajam, bola mata yang indah meski terlihat capek. Sedikit keringat bercucur di pelipir alis dan mata , ”aku membayangkan, wajahnya menawan. Sudah 15 menit berdiri, berkeringat dan oh aku terus memegangi kartu nama itu. Kenapa aku terus membengkokkanku? Padahal hanya pertemuan yang super singkat. Saya menyukai itu, bola matanya indah.

Tertera alamat surel dan nomor telepon di kartu nama itu. Aku harus menghubunginya, flashdisk yang ada padaku pastilah berisi file penting. Apakah aku harus menghubunginya sekarang? Aku sedikit takut, aku takut menyukai pemandangan mata itu.

Oke, aku memutuskan menghubunginya.

Selamat malam. Aku meminta maaf atas kejadian kemarin di stasiun kota. Flashdisk yang kamu jatuhkan ke saya, sekaligus kartu namamu yang akhirnya aku bisa menghubungi kamu sekarang.

Aku menunggu penjelasannya. Tidak ada jawaban sampai larut malam dan aku harus meninggalkan kafe. Ya, aku bekerja di sebuah kafe di tengah kota. Pagi hari aku harus berkuliah di satu universitas di kotaku, siangnya pukul 14.00 harus buru — buru membuka kafe. Kafe itu bukan milikku, sih, tapi aku sangat senang bisa bekerja di sana. Alih — alih-alih menambah uang saku dan tabunganku.

Besoknya di kafe, aku telat membuka kafe. Aku tertinggal kereta siang tadi selepas pulang dari kampus. Syukurnya, atasanku selalu memaklumi, meski kadang menegur dengan bahasanya yang lembut.

Aku buru — buru membersihkan dan menurunkan semua bangku, menyiapkan kafe dan membukanya. Seseorang memasuki kafe. Mataku mendelik tajam, kaget. Pria yang memasuki kafe adalah yang menabrakku di statistik kota. Aku buru — buru membuka ponsel dan ternyata dia sudah menjawab pesanku!

Lingkaran cahaya. Maaf karena sudah menabrakmu, itu kesalahanku. Bagaimana saya bisa mengambil flashdisk? Bagikan lokasi, hari ini saya datang untuk mengambil flashdisknya.

Jawabannya cukup manis. Aku sangat kacau, ingin sekali membalasnya, tapi pria itu sudah ada tepat di hadapannya. Ya, pria itu di depanku dan siap memesan sesuatu.

“Halo izin kak,”

“Halo kak, saya pesan 1 americano dingin dan 1 roti bakar selai ya,”

“Kak?”

Oh tidak. Aku melamun sambil memegangi handphone dan buru — buru menanggapinya.

“Eh maaf, bisa diulangi pesanannya ya kak?”

“1 americano dingin dan 1 roti bakar selai, ya,”

“Yah, ada lagi?”

“Kukup,”

“Totalnya 55 ribu ya kak”

Saya menerima uang dengan tangan yang sedikit gemetar.

Aku lebih lanjut membuatkan pesanannya dan pria itu duduk di pojok dekat kaca menuju ke luar jendela. Ia langsung membuka laptop, seperti mengerjakan pekerjaannya.

“Izin, 1 americano dingin dan 1 roti bakar selai. Selamat menikmati, kak,” aku meletakkan pesanan di mejanya.

“Baik, terima kasih, ya,”

“Hmm, maaf atas kejadian kemarin di statsiun kak,”

Pria itu menoleh, mendelikkan matanya, kaget. Aku mengangguk, maksudku mengiyakan bahwa aku adalah orang yang bertabrakkan di sini di statsiun.

“Kamu yang mengirimkan pesan itu?” pria itu bertanya. Aku gugup dan menganggukkan kepala. Pria itu tersenyum lebar.

“Itu salahku. Kamu mending bikin minum deh, duduk disini bareng,” pria itu mengajak aku duduk di hadapannya. Aku semakin gugup dan izin untuk mengambil minuman, lalu segera kembali dan mendekatinya,”

“Kemarin aku buru — buru mau ke kantor karena sudah terlalu siang. Jadi, maaf banget ya buat kejadian di statsiun,” pria itu memulai percakapan.

“Eh iya, engga apa — apa, kok. Ga ada yang sakit juga. Oh ya, flashdisk- nya ada di rumahku, tidak sempat aku bawa ke kafe hari ini” jawabku tersenyum gugup.

“Hmm, besok kamu bawa ya. Ngomong-ngomong, kenalin aku Derryl,” ia menjulurkan tangannya, menunggu jawaban dan respon posting.

“Bianca,” jawabku dan menjabat tangan.

Aku terus berbincang dengannya, entah kenapa kafe saat itu sepi dan membuatku bisa ngobrol lebih lama dengan Derryl. Orangnya asik dan ramah, di luar bayanganku. Ia bekerja di kantor dekat kafe tempatku bekerja. Derryl mengakui kalau sudah beberapa Kali ke kafe, tapi aku tidak menyadarinya. Mungkin karena saya tidak terlalu memperhatikan setiap pengunjung kafe yang datang.

Semenjak hari itu, aku dan Derryl semakin intens berkomunikasi lewat pesan di handphone . Hampir setiap hari Derryl menyempatkan datang ke kafe saat jam istirahat kantor. Kadang-kadang malamnya menjemputku ke kafe, lalu kami pulang bareng menaiki bus dan kereta. Kebetulan rumah kami searah dan masing-masing — masing-masing dari kami lebih suka menaiki transportasi umum.

Setelah hubungan yang bisa disebut lebih dari teman ini berjalan kurang lebih satu bulan, hari itu Derryl mengajakku ke sebuah danau yang tidak jauh dari rumahku. Danaunya bersih dan tenang, dikelilingi banyak pohon rindang dan ada lapangan luas. Derryl dan aku duduk di bawah pohon sambil menuju danau. Saat itu suasana sore sangat sejuk, banyak capung beterbangan di atas danau. Langit pun mulai tampak jingga.

Derryl mengambil tasnya, lalu membuka laptop. Entah apa yang akan dia lakukan. Ada satu folder yang ia buka, saya membacanya. Folder itu ia namakan “ Dalam Pencarian ”. Sesaat sebelum folder itu terbuka, Derryl mengatakan sesuatu.

“Pencarianku sudah selesai, Ca,” katanya. Aku mengernyit bingung, menoleh padanya.

“Aku sudah muncul. Kamu,” menambahkan.

“Aku?” aku bertanya kaget dan semakin bingung.

“Pertemuan kita memang tidak disengaja, Ca, tapi ini benar — benar jawaban Tuhan atas semua doaku,” katanya.

“Aku sudah lama mencari kamu, teman kecilku,” Derryl mengatakan kalimat itu sambil menatap kedua mataku.

“Aku? Teman kecil?” aku bertanya lagi.

“Iya, Ca. Aku pergi ke kota ini untuk mencari kamu, ya meskipun tidak setiap hari intens mencarinya. Kadang kalau ada waktu aja, pas weekend gitu,” jelasnya.

“Dari semua cerita kamu, ciri — ciri wajahmu, semua bertahan itu. Nama kamu Bianca Putri kan? Dulu panggilan saat kecil tuh Putri, kita sering main dan aku sukamu dari dulu,”

“Tapi apa yang kamu cari?” tanyaku heran.

“Menjemput jodohku,” jawaban di luar dugaan, Derryl tertawa.

“Nih, folder ini dari flashdisk yang sempat terjatuh saat itu. Kuumpulan foto — foto kamu dan aku saat kecil, juga dengan teman — teman,” Derryl membuka folder dan menampilkan semua foto — fotonya. Yaampun! Benar saja, itu memang foto — fotoku dan aku mulai mengingat kembali dan sadar bahwa Derryl memang benar teman kecilku.

“Loh, berarti kamu itu abang ya?” aku tertarik dan Derryl tersenyum mengangguk. Derryl dipanggil abang saat kecil karena paling tua di antara teman — teman. Aku sampai saat ini tidak tahu siapa nama aslinya karena saat kecil hanya direndam dengan sebutan abang saja.

“Sebulan ini aku mengati kamu dan benar — benar di luar dugaan, kamu adalah Putri teman kecilku, yang aku suka,”

“Sampai akhirnya aku menemukanmu dengan pertemuan tidak sengaja ini, kamu memang tidak berubah, Ca. Tetap cantik dengan gayamu, sopan, dan baik,” mata Derryl berbinar saat berusaha menjelaskannya.

“Aku suka kamu, Ca. Aku yakin kamu juga memiliki perasaan yang sama. Maka, pada sore ini disaksikan senja, aku menyatakan, aku menyukaimu setulus hatiku. Apakah kamu bersedia menjadi teman kehidupan, Ca?” Derryl merogoh kantong celananya. Kotak cincin! Bukan main, Derryl langsung melamarku? Aku benar — benar mematung kaget karena tidak berekspektasi lebih dari ini.

Aku diam selama satu menit, berusaha memahami keadaan ini dan memikirkan apakah aku menerima lamarannya atau tidak.

Aku mengangguk.

“Aku bersedia, Abang,” aku menjawab dengan penuh rasa haru. Derryl tersenyum dan langsung memelukku.

Senja menuju malam menjadi saksi atas pernyataan Derryl terhadapku. Sungguh pertemuan yang benar – benar mengejutkan. Satu bulan setelahnya, kami resmi menikah, Derryl mengajak seluruh keluarga dari kampung ke kota. Tentunya tetangga — tetanggaku saat di kampung juga datangan. Pertemuan aku dan Derryl menjadikan ajang silaturahim yang kembali terikat setelah bertahun-tahun — tahun lamanya, aku dan keluarga kecilku meninggalkan kampung.

Aku hidup bahagia dengan Derryl. Menyatukan dua hati dan dua keluarga besar memanglah indah. Banyak terima kasih aku panjatkan atas pertemuan hebat ini.