Harianmerdekapost.com, Lumajang, Jawa Timur. Kemajuan suatu daerah tidak hanya bergantung pada dana dan sumber daya yang tersedia, tetapi juga ditopang oleh kekuatan hubungan dan kepercayaan di antara warganya. Hal ini terlihat nyata dalam penyelenggaraan acara budaya Segoro Topeng Kaliwungu tahun 2026, yang melibatkan 116 lembaga serta 48 sanggar seni yang tersebar di seluruh wilayah Lumajang.
Demikian disampaikan Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Lumajang, Joko Setyo, saat hadir dalam talkshow JELITA di Studio 1 LPPL Radio Suara Lumajang, Selasa (23/6/2026).
“Partisipasi yang begitu luas membuktikan bahwa seni dan budaya tetap menjadi ikatan yang mempersatukan berbagai kalangan. Di satu sisi, ini upaya melestarikan warisan leluhur; di sisi lain, menjadi wadah untuk mengembangkannya agar tetap relevan dengan masa kini,” ujarnya.
Ia menambahkan, keterlibatan sekolah, kelompok seni, hingga warga biasa mencerminkan semangat gotong royong yang sudah lama menjadi ciri khas masyarakat Lumajang. Kerja sama ini bukan sekadar mendukung kelancaran acara, tapi juga membangun jaringan sosial yang kokoh sebagai dasar kemajuan daerah.
Dalam pandangannya, modal sosial menjadi aset tak ternilai. Semakin erat kebersamaan antarwarga, semakin besar peluang berbagai program pembangunan berjalan lancar dan diterima baik oleh masyarakat.
“Segoro Topeng Kaliwungu menjadi contoh nyata bagaimana budaya bisa mempertemukan banyak pihak. Di sini terjadi pertukaran ilmu, pengalaman, dan kesepakatan bersama untuk tetap menjaga jati diri daerah,” jelasnya.
Pemkab Lumajang menilai antusiasme warga dalam kegiatan ini sebagai sinyal positif. Ini menandakan kesadaran untuk melestarikan budaya sudah tumbuh luas, sekaligus menjadi penopang pembangunan yang berkelanjutan.
Lewat kolaborasi besar tersebut, Segoro Topeng Kaliwungu 2026 tidak hanya menghadirkan tontonan budaya yang menarik, tetapi juga memperkuat persatuan dan kekuatan sosial yang menjadi pondasi utama kemajuan Kabupaten Lumajang.






