Harianmerdekapost.com | Lumajang, Jawa Timur. Di tengah derasnya arus informasi dan pengaruh budaya luar, mengenalkan sejarah daerah kepada anak muda kini menjadi tantangan sekaligus kebutuhan penting. Karena itu, penyelenggaraan Segoro Topeng Kaliwungu 2026 tak hanya berfungsi sebagai ajang seni dan hiburan, melainkan juga dijadikan media edukasi untuk menghidupkan kembali kisah sejarah Lamajang Tigangjuru yang menjadi jati diri asli Kabupaten Lumajang.
Hal itu disampaikan Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Lumajang, Joko Setyo, saat menjadi pembicara dalam acara talkshow JELITA di Studio 1 LPPL Radio Suara Lumajang, Selasa (23/6/2026).
Menurutnya, tema yang diusung tahun ini — “Lamajang The Land of Glory” — dipilih khusus untuk mengangkat kembali jejak kejayaan, nilai luhur, serta kekayaan budaya yang dimiliki daerah ini. Melalui kemasan pertunjukan seni, sejarah disajikan dengan cara yang lebih menarik, santai, dan mudah dicerna oleh semua kalangan, terutama generasi muda.
“Budaya adalah jembatan terbaik menghubungkan masa lalu dan masa kini. Jika sejarah hanya disampaikan secara kaku dan formal, anak muda cenderung kurang tertarik. Lewat pementasan yang kreatif dan melibatkan mereka secara langsung, pesan sejarah akan lebih meresap dan membekas,” jelasnya.
Segoro Topeng Kaliwungu juga menjadi ruang untuk menyegarkan ingatan kolektif warga tentang perjalanan panjang Lumajang sebagai wilayah yang memiliki akar budaya dan sejarah yang kuat. Pementasan kolosal yang digelar di Pantai Watu Pecak pada 27–28 Juni 2026 diharapkan dapat menyadarkan masyarakat bahwa warisan budaya bukan sekadar kenangan masa lalu, melainkan pondasi kokoh untuk membangun masa depan.
Pemerintah daerah menilai penguatan identitas ini menjadi bagian tak terpisahkan dari pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas. Semakin paham generasi muda akan asal-usul daerahnya, semakin tumbuh rasa bangga, jati diri yang kuat, dan kepedulian untuk terus menjaga serta melestarikan peninggalan leluhur.
Lewat pengangkatan kisah Lamajang Tigangjuru, kegiatan ini diharapkan tidak hanya menghadirkan tontonan yang memukau, tetapi juga menjadi sarana belajar yang efektif. Tujuannya jelas: menumbuhkan kecintaan mendalam terhadap daerah sekaligus memperkuat semangat persatuan yang berlandaskan kearifan lokal.
Dengan pendekatan ini, seni budaya hadir sebagai alat pendidikan yang tetap relevan dengan perkembangan zaman, sekaligus menjadi penghubung yang erat antara sejarah, jati diri, dan cita-cita masa depan Kabupaten Lumajang.






