Hanya Menyisakan Berkas Tipis.

Editor/Penulis : Amatus . Rahakbauw

Arikel, Daerah381 Views

Matahari bersinar terik. Sinarnya terhalang rimbunnya pepohonan, sehingga hanya menyisakan berkas tipis.

Burung-burung berkicau seolah- olah sedang menyanyikan lagu ucapan syukur & terimakasih mereka buat Tuhan atas alam yang Tuhan berikan buat mereka.

Bunyi riak jernih sungai beradu dengan batu kali berpadu dengan sahutan dari beberapa penghuni hutan yang lainnya. Ya, inilah tempat tinggal beberapa binatang penghuni hutan, si anak rusa yang sekarang tengah asyik bermain bersama teman-temannya dipingiran sebuah sungai.

Ketika anak rusa megelengkan kepalanya ke arah teman temanya yang lainnya dengan hidung yang panjang, ia pun memekik nyaring. Sampai akhirnya, kegembiraan mereka terpecah oleh bunyi bising dari sebelah utara hutan. Bunyi bising mesin sensor itu bercampur dengan deru sesuatu yang sama sekali tidak pernah mereka kenal.

“Hei, lihat itu!”

Semua serentak menghentikan kegiatan mereka dan menengok ke langit yang ditunjuk sang anak rusa. Asap hitam tebal yang membumbung tinggi dari sana. Asap itu semakin tebal dan terus menebal. Itu merupakan fenomena aneh yang baru pertama kali mereka saksikan. Selama ini yang mereka tahu, langit selalu berwarna biru cerah dengan awan putih berarakan.

Keheningan hutan itu kemudian pecah saat anak rusa tiba-tiba saja berlarian datang sambil memekik nyaring, “Hutan terbakar! Hutan terbakar!”

Semua ikut memekik ketakutan. Hutan terbakar! Tempat tinggal mereka terbakar!

“Rusa anak! Apa yang kau lakukan!? Cepat pergi!” Anak rusa berteriak sambil megeluarkan suaranya ..

Suasana hutan yang tadinya damai tenteram, seketika menjadi neraka bagi semua hewan. Asap hitam pekat yang mulai menyelimuti seluruh hutan ini. Suhu udara mulai panas, membuat para hewan makin berteriak nyaring.

Anak rusa panik bukan main. Sambil berlari mengikuti langkah hewan lain, matanya bergerak ke sana-ke mari, mencari sosok ibunya.

“Anak rusa berteriak bertanya! Di mana ibuku?” tanya nya.

“I-ibu … ibumu ….” Anak rusa tidak bisa menjawab karena sama-sama tidak tahu di mana ibu Anak rusa itu berada.

“Anak rusa berlari kembali ke tempat yang biasanya ia bersama ibunnya berteduh!”.

Namun, sebelum Anak rusa itu melancarkan niatnya itu, saudara anak rusa itu sudah membawah kembali. “Ibunya pasti sudah berada di depan. Bersama rusa dewasa lainnya.”

“Anak rusa itu!” bersama sama teman temanya berteriak di belakangnya Ibunya.

Rusa Anak sampai di dekat ibunya yang berada dengan napas terengah. Ia langsung membelalakkan mata begitu melihat sosok ibunya yang sedang bersusah payah berusaha keluar dari sarang. Api sudah menjalar di setiap pohon di dekat sarangnya itu.

“Ibu!” teriak Anak rusa itu sekuat tenaga.

“Sedang apa kamu?! Cepat pergi dari sini!” teriak ibu anak rusa itu sambil menggerakkan belalainya, menyuruh Anak rusa menjauh dari tempat ini.

“Tidak! Aku tidak mau!” balas Anak rusa keras kepala. Kenapa ibunya masih bisa berkata seperti itu? Padahal jelas-jelas ia dalam keadaan terjebak api?

“Cepat pergi, Anak rusa !”

“anak rusa ! Ayo pergi!” Tiba-tiba saja saudaranya datang ke tempatnya dan langsung menarik Ibunya.

“Tidak mau!” Anak rusa menyentak belalai Pipin keras. “Ibu! Aku akan menyelamatkanmu!”

“Jangan, Anakku!” bentak saudaranya

Kraaak! Braaak!

“IBU!! IBU!!” anak rusa terus meraung memanggil ibunya. Pohon yang sedang terbakar itu jatuh dan kemudian menimpa tubuh payah ibu anak rusa itu.

“Ayo, saudaraku , kita harus pergi,” lirih kemana anak rusa itu sambil menariknya.

Sekali lagi anak rusa ini menoleh ke belakang saat dirinya sudah cukup jauh dari sarangnya. Tidak ada lagi hutan hijau dengan tumbuhan rindang di sekitarnya. Hutan hijau yang selalu ia kagumi sudah berubah menjadi hutan merah yang sangat panas.