Kelangkaan Minyak Tanah di Oransbari, Biogas diharapkan jadi Solusi

Harianmerdekapost.com, Manokwari Selatan, Papua Selatan – Harga bahan bakar rumah tangga di Distrik Oransbari, Kabupaten Manokwari Selatan, masih menjadi persoalan bagi masyarakat. Kementerian Transmigrasi melalui Tim Ekspedisi Patriot (TEP) ITS mengusulkan inovasi biogas bersumber dari kotoran sapi sebagai sumber energi alternatif.(09/10/2026).

 

“Gas yang dihasilkan dari 10 ekor sapi juga dapat menyuplai hingga tiga rumah dengan jarak tidak lebih dari 50 meter, dengan penggunaan satu kompor biogas tiap rumahnya,” Ujar Solikin, pakar biogas asal Pasuruan, Jawa Timur yang telah berhasil mengembangkan desa mandiri energi dengan pemanfaatan limbah kotoran sapi perah.

 

Sebelum mengenal biogas, masyarakat Oransbari masih mengandalkan bahan bakar minyak tanah subsidi dengan harga beli sebesar Rp20.000 per lima liter dan Rp35.000 untuk harga non-subsidi. Selain itu, opsi gas elpiji hanya tersedia dalam ukuran 12 kilogram yang dibandrol dengan harga Rp500.000 hingga Rp800.000 saat terjadi kelangkaan.

Harga gas elpiji yang melambung tinggi menjadi salah satu alasan kuat mengapa masyarakat masih bergantung pada subsidi minyak tanah. Namun, di sisi lain pasokan minyak tanah juga didistribusikan secara terbatas melalui sistem pengisian berkala, dengan setiap kepala keluarga hanya diperbolehkan mengisi satu jeriken dalam satu periode pengisian.

 

Situasi ini mendorong peluncuran inovasi biogas sebagai alternatif sumber energi yang lebih terjangkau dan sesuai dengan kondisi masyarakat setempat.

Memanfaatkan limbah kotoran sapi warga, Tim 8 Ekspedisi Patriot ITS dapat menghasilkan 3 produk energi berupa gas, listrik dan pupuk organik.

 

“Jika gas yang ditampung di reaktor tidak digunakan, maka gas akan hilang, bukan meledak,” jelas Ayu Nur Lestari, terkait risiko keamanan operasional reaktor biogas.

Aspek keamanan jelas menjadi salah satu komponen penting dalam pemanfaatan teknologi ini.

READ  Perkuat Sinergi, Babinsa Tamanayu Komsos Bersama Stakeholder 

 

Di sisi lain, tim yang diketuai oleh Dr. Ir. Arief Abdurrakhman, S.T., M.T. juga ingin mendorong penerapan ekonomi sirkular dengan memanfaatkan setiap komponen yang dihasilkan pada setiap prosesnya menjadi produk bernilai guna.

 

Pengembangan biogas di Oransbari turut mendukung sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDGs 7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau melalui penyediaan alternatif energi terbarukan, SDGs 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui pemanfaatan limbah peternakan menjadi energi dan pupuk, serta SDGs 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim melalui pengembangan energi yang lebih berkelanjutan.

 

Lengkapnya, Tim 8 Ekspedisi Patriot ITS ini dijalankan oleh sejumlah ahli dari berbagai latar belakang. Di antaranya adalah Ayu Nur Lestari, S.Tr.T., M.T., Febriyati, S.Tr.T., Moch. Fauzan Surya Earlyansyah, S.Si., Lalu Muhammad Sapriandi, S.P., serta Jinan Elvaretta Aqilah Setyabudi, S.Tr.T

 

Dengan memanfaatkan potensi sapi dan limbah peternakan yang tersedia, biogas diharapkan dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap minyak tanah sekaligus memberikan nilai tambah dari limbah. Program ini menjadi salah satu upaya Tim 8 Ekspedisi Patriot ITS untuk mendorong pemanfaatan sumber daya lokal menuju kemandirian energi masyarakat Oransbari.

 

(Luis).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *