Harianmerdekapost.com, Manokwari Selatan, Papua Selatan – Ketergantungan petani terhadap pupuk kimia masih menjadi tantangan pertanian di Distrik Oransbari, Kabupaten Manokwari Selatan. Tim 8 Ekspedisi Patriot (TEP) ITS mendorong pengolahan pupuk organik untuk menekan ketergantungan petani terhadap pupuk kimia (09/10/2026).
“Ke depan, pemanfaatan pupuk organik dari reaktor biogas diharapkan dapat mendukung kemandirian petani Oransbari dalam memenuhi kebutuhan pupuk sekaligus meningkatkan efisiensi biaya produksi.” Jelas Arief Abdurrakhman, ketua Tim 8 TEP ITS.
Arief menjelaskan bahwa reaktor biogas yang dirancang tim 8 TEP ITS ini dapat memberikan sejumlah manfaat. Nantinya, kotoran sapi akan dikonversi menjadi energi, sedangkan hasil sampingnya diolah menjadi pupuk organik.
Melalui teknologi biogas, kotoran sapi akan menghasilkan residu berupa bio-slurry sebagai sumber pupuk organik. Limbah pertanian berupa jerami padi juga dapat digunakan sebagai bahan campuran untuk mendukung kualitas pupuk yang dihasilkan.
Direktur BUMDes Margorukun menyambut positif keberadaan pupuk hasil pengolahan biogas tersebut. Menurutnya, langkah ini memberikan harapan bagi masyarakat di tengah ketergantungan terhadap pupuk kimia subsidi.
“Kami dari pihak BumDes menyambut dengan antusias pupuk hasil biogas ini. Nantinya BumDes juga akan membentuk satu unit usaha khusus untuk mengelola pemasaran pupuk hasil biogas ini” ujar Mansyur, Direktur Badan Usaha Milik Desa Margorukun, Distrik Oransbari, Manokwari Selatan.
Sebelumnya, hampir sebagian besar petani di Oransbari hanya bergantung pada satu sumber pupuk subsidi karena keterbatasan permodalan. Sebagian petani mendapatkan pupuk melalui sistem utang panen kepada pengecer.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi keuntungan yang diterima petani. Selain itu juga dapat membatasi kemampuan petani dalam mengelola hasil pertanian secara mandiri.
Pemanfaatanan bio-slurry nantinya turut mendukung SDGs 2 (Tanpa Kelaparan) melalui produktivitas pertanian dan ketahanan pangan, SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pengolahan limbah, serta SDGs 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui sistem produksi yang berkelanjutan.
Langkah ini dijalankan oleh sejumlah ahli dari berbagai latar belakang yang tergabung dalam Tim 8 TEP ITS. Di antaranya adalah Ayu Nur Lestari, S.Tr.T., M.T., Febriyati, S.Tr.T., Moch. Fauzan Surya Earlyansyah, S.Si., Lalu Muhammad Sapriandi, S.P., serta Jinan Elvaretta Aqilah Setyabudi, S.Tr.T.
Melalaui integrasi peternakan, energi, dan pertanian dapat membangun ekosistem ekonomi sirkular. Selain itu, diharapkan dapat memberi manfaat berkelanjutan bagi masyarakat Oransbari.
(Luis).






