Harianmerdekapost.com – Bekasi, Jawa Barat
Momen Idhul Fitri menjadi waktu istimewa untuk merayakan hari kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa, Ziarah ke Makam keluarga (Nyekar) merupakan sebuah tradisi leluhur yang penuh dengan makna, sebuah tradisi turun-temurun yang tetap terjaga oleh seluruh masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Sunda dan Jawa, meskipun saat ini kebanyakan masyarakat telah mengalami pergeseran makna akibat modernisasi.
Ziarah makam atau nyekar yang menggabungkan nilai spiritual Islam dan budaya lokal, praktik dan kegiatan ini dilakukan dengan mengunjungi makam keluarga ataupun kerabat yang telah meninggal dunia, bertujuan mendoakan leluhur, membersihkan makam, dan tabur bunga, yang dilakukan sesudah shalat ied.
Begitu pula dengan keluarga besar Almarhum Abah Abun, Abah Abun adalah salah seorang sesepuh yang berasal dari salah satu Kampung yang berada di Desa Sukaragam, Serang Baru, Abah Abun dimakamkan di daerah Desa Jaya Sampurna, Serang Baru, meskipun anak-anaknya berada diluar Desa dan bahkan diluar Kecamatan, seperti ada yang dari Desa Sukaragam bahkan ada pula yang dari Desa Cibarusah, namun jarak bukanlah sebuah ukuran, mereka setiap tahunnya selalu rutin menyambangi makam orang tua untuk berziarah dan mendoakan mendiang, Minggu (22/3/2026).

Seperti biasanya, keluarga Almarhum Abah Abun membersihkan area disekitar makam terlebih dahulu, setelah itu dilanjutkan dengan membacakan Surat Al-fatihah, melantunkan kalimat Dzikir, dan mengucapkan doa-doa khusus untuk Almarhum dan Almarhumah, pembacaan doa Tahlil dipimpin langsung oleh Bapak Atu Iskandar salah satu sesepuh sekaligus anak dari Almarhum Abah Abun yang di tua kan.
Selesai berziarah, seluruh keluarga besar Almarhum Abah Abun juga saling bersalaman dan bermaaf-maafan, serta tidak lupa juga mengucapkan Minnal Aidzin Walfaizin, kepada seluruh masyarakat Indonesia, khususnya kepada umat Muslim yang menjalankan.
Tradisi ini bukan hanya bentuk penghormatan, tetapi juga sebagai pengingat dan introspeksi diri kita, bahwa akan ada kehidupan setelah kematian.
Tradisi ini tidak hanya mempererat hubungan antar anggota keluarga, tetapi juga memperkuat kesadaran spiritual dan penghormatan kepada leluhur, dengan memahami makna dan sejarahnya, diharapkan tradisi ini dapat terus dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
Semoga di hari yang fitri ini, kita kembali suci, dipererat tali silaturahmi, serta dilimpahkan kesehatan, kebahagiaan, dan keberkahan bersama orang-orang tercinta.
Karena pada hakikatnya saling memaafkan dan saling mendoakan di Hari Idhul Fitri juga merupakan sebuah tradisi dan ajaran dari para Sahabat Nabi, agar segala amalan ibadah kita selama Bulan Ramadhan dapat diterima oleh Allah SWT.
TB/Obeng






