Harianmerdekapost.com – Sumenep, Madura, Jawa Timur – Kawasan gerbang “Selamat Datang” Kabupaten Sumenep yang selama ini menjadi simbol kebanggaan justru menyisakan ironi. Di titik pintu masuk wilayah yang berlokasi di Desa Sendang, Kecamatan Pragaan itu, suasana gelap gulita menyambut setiap pengendara yang melintas pada malam hari.
Padamnya lampu penerangan di sekitar ikon kota tersebut memicu kritik warga. Area yang seharusnya menjadi wajah awal Kabupaten Sumenep kini tampak kusam dan tak terurus ketika malam tiba. Padahal, di lokasi itu berdiri monumen Tugu Keris yang selama ini kerap menjadi latar foto masyarakat maupun tamu dari luar daerah.
“Ini kan pintu masuk kota, harusnya jadi perhatian. Kalau gelap seperti ini tentu rawan kecelakaan,” ujar Rahman, warga yang melintas, Sabtu (28/2) malam.
Keluhan bukan hanya soal estetika. Minimnya pencahayaan dinilai membahayakan keselamatan pengendara, terutama saat arus lalu lintas meningkat. Kondisi gelap di jalur utama yang menghubungkan antarwilayah itu berpotensi memicu kecelakaan.
Sorotan publik pun mengarah ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep di bawah kepemimpinan Achmad Fauzi Wongsojudo. Warga mendesak agar instansi teknis segera melakukan pengecekan menyeluruh, memastikan apakah gangguan disebabkan kerusakan teknis, jaringan listrik, atau faktor lain.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi mengenai penyebab pasti padamnya lampu di kawasan tersebut maupun target waktu penyelesaiannya.
Ironisnya, berdasarkan penelusuran, Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Perhubungan (Disperkimhub) Sumenep tercatat mengelola anggaran perawatan lampu penerangan jalan umum (PJU) sebesar Rp 613.264.000 dari APBD Sumenep 2025. Anggaran itu dialokasikan untuk pengadaan lampu LED, bohlam, hingga kebutuhan pemeliharaan PJU.
Mantan Kepala Disperkimhub Sumenep, Yayak Nurwahyudi, sebelumnya menyatakan bahwa lampu PJU di kawasan tersebut tidak bermasalah. Menurutnya, yang padam adalah lampu taman yang berjajar di sepanjang jalan.
“Kalau lampu taman, kami akui memang sudah lama mati. Tapi, kalau lampu PJU di sana tidak ada masalah,” terangnya.
Ia juga mengakui masih banyak lampu PJU di wilayah Sumenep yang membutuhkan perbaikan. Namun, keterbatasan personel menjadi kendala. Dari total 12 petugas yang ada, mereka dibagi menjadi empat tim untuk menangani seluruh wilayah.
“Yang melapor melalui call center 112 itu memang banyak, dan pasti kami perbaiki secara bertahap,” tandasnya.
Di tengah penjelasan tersebut, warga berharap kawasan gerbang “Selamat Datang” dan Tugu Keris diprioritaskan. Sebab, bagi banyak orang, terang atau gelapnya pintu masuk kota bukan sekadar persoalan lampu mati. Ia menjadi simbol sederhana tentang seberapa serius pemerintah merawat wajah daerahnya sendiri.(*)






