Saya Tidak Pernah Menyerah.

Penulis : Amatus Rahakbauw

Arikel438 Views

Saya masuk Perguruan Tinggi saat ini,karena keajaiban Tuhan sehingga saya bisa diterima melalui Seleksi Perguruan Tinggi (SBMPTN),

Karena ketidaktahuan saya, setelah duduk dibangku SMP, saya malah masuk Sekolah Menengah Kejuruan karena saya mempunya asumsi bahwa Sekolah Menengah Kejuruan adalah Sekolah Menengah Atas yang memiliki kelas praktik tambahan sehingga terkesan lebih ‘menantang’. Saya dari tidak tahu apa itu ITB, UI, hingga saya masuk ke Perguruan Tinggi dan mengerti tempat dimana saya berkuliah saat ini.

Saya adalah anak dari keluarga yang bisa dibilang masuk dalam kategori keluarga yang miskin.

Orang tua sayapun hanya berpenghasilan dibawah Upah Minimum Regional rata-rata di kota saya.

Kamu bisa bayangkan betapa bodohnya saya bahkan informasi umum seperti itu tidak saya ketahui sampai saya berkuliah.

Semester pertama dan kedua saya,mengalami kesulitan dalam menerima pelajaran Kalkulus dan Statistik karena saya tidak pernah menerima pelajaran sejenis di bangku SMK.

Bahkan di waktu itu, saya belum memiliki laptop untuk melakukan kegiatan rutin/mengerjakan tugas (saya mengambil jurusan Informatika, sehingga Kamu bisa membayangkan betapa krusialnya perangkat satu ini), sehingga bisa dibilang saya mengalami kondisi yang sangat tidak menguntungkan sebagai mahasiswa.

Namun saya tidak pernah menyerah.

Sedari dulu, saya mempunyai mimpi untuk dapat menggabungkan kecerdasan buatan, dengan ranah pemahaman linguistik, yang belakangan saya kenal termasuk dalam lingkup Pemrosesan Bahasa Alami/Natural Language Processing. Saya mulai berinteraksi dengan rekan-rekan mahasiswa yang lain,bahkan saya mengejar ketertinggalan saya mengenai materi Matematika SMA, menjadi Asisten Dosen untuk memperluas wawasan saya, dan melakukan kegiatan lain untuk menambah pengalaman dan pengetahuan saya. Ini mengarahkan saya pada beberapa hal yang sekiranya dapat berguna:

Jangan pernah takut menjadi berbeda

Beberapa dari kita mengasumsikan bahwa mempertanyakan hal sederhana adalah sesuatu yang memalukan, menjadi orang yang ambisius adalah sesuatu yang tidak realistis, menjadi orang yang tidak sama dengan yang lain adalah hal yang aneh. Jangan pernah berpikir demikian. Jangan pernah mengasumsikan bahwa kondisi kita saat ini adalah sesuatu yang permanen yang sudah melekat dan tidak dapat diubah. Konsep ini dikenal sebagai Growth Mindset.

Pahami apa yang kamu punya

Sebagaimana saya jelaskan diatas, bahwa keadaan saya sangatlah tidak menguntungkan. Tetapi apakah lantas saya berpasrah pada keadaan? Tidak! Cari sesuatu yang bisa kita gunakan sebagai ‘senjata’. Kamu adalah orang yang punya ketahanan fisik tinggi? Bekerja paruh waktu di sekitar lingkungan bukan sebuah masalah. Punya teman-teman yang banyak? Cari beberapa yang berkualitas, dan belajar dari mereka. Tak perlu malu-malu. Merasa tidak punya dukungan? Gali komunitas yang sesuai dengan minat kita, ikuti penyuluhan-penyuluhan lokal, cari lingkungan yang membantu peningkatan kualitas diri ke arah yang kita inginkan. Jangan pernah memiliki Victim Mentality. Apapun yang terjadi, semua bisa diubah.

Sadari bahwa waktu adalah satu-satunya yang terhebat, dan tak tergantikan

Kebanyakan orang hingga saat ini tidak menyadari bahwa yang membedakan hal yang akan diraih kelak antara satu orang dengan yang lain, selain dari dedikasi/kerja keras, adalah penggunaan waktu. Banyak sekali cara-cara yang bisa digunakan untuk memaksimalkan waktu yang kita punya. Membaca secara fokus/menggunakan konsep Pomodoro, mengurangi akses sosial media untuk menghindari FOMO/information overload, memiliki waktu pagi yang bagus, adalah beberapa cara untuk mendapatkan hasil efektif pada rentang waktu yang sama.

Apa yang kamu lakukan jika terlahir miskin, tidak punya teman, dan tidak punya bakat?
Informasi apa yang penting untuk diketahui agar tidak ditipu?
Apa nasihat terbaik yang pernah kamu terima tentang mencari uang?
Selain uang, apa yang orang lain punya sedangkan kamu tidak?
Apa nasihat atau pengalaman yang akan kamu bagikan pada seseorang sebelum ia berusia 25 tahun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *