Mau Menagis Di Sana?

Editor/Penulis : Amatus.Rahakbauw

Arikel548 Views

Apakah kamu pernah melihat seorang wanita menangis? Aku baru saja bertemu dengan seorang wanita yang menangis di sudut sekolah. Tempat yang sangat bau pesing itu. Saya melihat dia menangis tersedu-sedu di sana,sambil memegang ujung roknya.

“Kuhampiri dia sambil aku bertanya kenapa kamu menangis di situ? Tempatnya sangat bau pesing di sana! Mau saya kasih tahu tempat menangis yang paling enak di dunia? dan Dijamin, pasti makin enak untuk menangis,” kataku.

Aku yakin seratus persen dia pasti mendengar uca­panku. Tetapi, dia tidak akan menjawab sama sekali. Ka­lau sampai kedapatan Sir Paul, guru bahasa Inggris yang suka cerita jin, aku pastikan dia tidak akan bakal sela­mat didunia dan akhirat.

Seberapa pun alasannya, mau datang bu­lan atau datang meteor sekalipun, kecuali dia bisa me­rayu guru bahasa Inggrisnya itu dengan cerita-cerita jin.

“Di sana ada pohon rindang yang enak buat menangis. Mau menangis di sana?”

Cewek itu melihat Paul menatapnya dengan tajam seolah – olah dia akan berubah menjadi manusia, perempuan berambut ular dalam cerita-cerita Yunani kuno. Dari matanya yang merah, aku sangat yakin kalau dia sudah menangis lama sekali. Bisa saja sehabis upacara bendera tadi dia langsung ke sini dan menangis. Dia? Dia adalah sahabat pacarku. Namanya Romla.

Romla bertanya? Aku yakin bisa menyebut namanya waktu pelajaran Biologi. Kali ini Romla berdiri. Menatapku dengan muka menantang.

Tahu apa kau tentang masalahku!” kemudian dia pergi aku terpana bahkan. Tidak pernah kulihat Romla sampai marah begini. Sekalipun kami memang­gilnya hei, akar-akaran! atau hai, materi biologi, kenapa harus namanya Romla. Kenapa tidak perkawinan saja! Tapi kali ini, ia benar-benar menangis. Aku tidak yakin ia menangis hanya karena kegagalannya. Ia kalah lomba menulis cerita pendek. Yang mengalahkannya adalah sahabatnya sendiri, pacarku, Rosmini.

Aku berjalan di koridor sekolah dan Romla tampak berjalan di ujung koridor.

“Selamat, Sang Juara Cerpen,” kataku.

“Sama-sama, Sang Juara Melukis,” jawabnya tersenyum.

“Eh, tunggu, sahabat kamu tadi menangis di belakang sekolah. Di samping lab IPA.”

Romla terdiam membisu sejenak.

“Romla…”

“Iya, eh, aku tadi dipanggil Bu makda. Aku ke ruang guru dulu, ya?“

Romla pergi begitu saja.

Yap, aku memang tidak mengerti persahabatan Paul dan Romla. Tapi yang jelas, aku pernah mendengar bahwa setiap persahabatan akan diuji. Minimal sekali seumur hidup. Sekarang, aku bisa merasakan, persahabatan Paul dan Romla benar-benar diuji.

Baru beberapa menit aku melangkah menuju kelas, Paul, ketua OSIS muncul, lengkap dengan muka wibawanya.

“Kau tahu kenapa pacarmu menangis?” katanya tiba-tiba.

Aku menatapnya tidak mengerti.

“Bro, jangan kayak jelangkung. Datang tiba tiba. Bicara tiba tiba.” Dari raut mukanya, aku bisa menyimpulkan bahwa ia tak tertarik dengan ucapanku.

Aku merasakan dadaku berdebar-debar keras. “Apa maksudmu?”

“Pacarmu memplagiat cerpen sahabatnya sendiri. Ini semua karena ulahmu.”

Dan…. aku yakin, Romla menangis di tempat tadi setelah pengumuman lomba menulis cerpen. Aku yakin Romla tidak salah. Dan… aku yakin, persa­ha­batan mereka benar-benar sedang diuji.
“Ada berkas cerpen hasil lomba cerpen?”

Ia menaikkan sedikit alisnya. Menatapku penasaran.

“Untuk apa ya, Wahai Baginda?”

“Tunjukkan saja. Kan kamu panitianya?”

“Boleh, aku sudah pajang di mading.”

Dengan langkah panjang-panjang, aku berjalan menuju mading. Di sana, sebuah cerpen sang juara dipajang. Sebuah cerpen dengan judul: Mau Menagis Di Sana?

Aku menahan napas. Aku membaca cerita itu dengan teliti. Aku kenal Romla. Dia tak akan bisa menulis sejauh ini. Dan kalimat aku ingin mencin­taimu dengan sederhana.

Romla menangis hebat. Aku mendengarnya terisak-isak. “Romla, sekarang kau boleh menangis. Sekarang kau boleh melepaskan aku untuk sesaat dan belajar memahami untuk menjadi dirimu sendiri. Belajar menjadi dirimu sendiri hingga menjadi sesuatu yang berharga di mata orang lain.Romla, aku men­cintaimu dengan sederhana. Aku mencin­taimu apa adanya. Dan, Romla, maukah kau berbagi ceritamu yang sederhana dengan lukisanku yang apa adanya?” kataku dalam hati sambil melangkah mantap menuju kantor guru, untuk meluruskan permasalahan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *