Kehabisan Akal Baru Ingat Tuhan.

Arikel, Daerah468 Views

Keangkuhan merendahkan orang lain, tetapi orang yang rendah hati, menerima pujian,” Amsal 29:23.

Sombong, angkuh dan merasa diri paling hebat adalah sifat manusia yang paling sulit diberantas. Baru beroleh berkat sudah merasa diri paling kaya, gayanya setiggi selangit. Saat bertemu orang, seakan akan tak perduli dan merasa hanya dirinya saja yang sebagai penghuni dunia ini.

Hal ini menjadi salah satu dosa manusia yang terselubung, bahkan pula tidak terdeteksi dan setiap manusia cenderung melakukan dosa ini yaitu mengandalkan manusia dan diri sendiri.

Kita sebagai orang Kristen, sesungguhnya harus mengasihi Tuhan tetapi secara tidak langsung kita sudah berharap kepada kekuatan manusia dan terlalu me­ngandalkan diri sendiri. “Terkutuklah orang yang me­ngandalkan manusia, yang mengandalkan ke­kua­tannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Yeremia 17:5.

Mengandalkan berarti berharap, percaya, terjamin. Se­bagai contoh waktu kita sakit, yang timbul pertama kali dalam pikiran kita adalah pergi ke dokter atau mi­num obat. Berarti secara tidak sadar, kita mengandalkan hal yang lahiriah dan masuk akal daripada mengan­dal­kan Tuhan. Contoh lain saat kita kekurangan, kita men­cari orang berkecukupan untuk meminjam uang, saat ter­jepit kita mencari orang berpengaruh untuk me­nye­lesaikan masalah kita dengan cepat.

Saat kita mampu mengerjakan sesuatu yang sesuai de­ngan kemampuan kita, kita langsung menger­ja­kannya. Hal ini bukan berarti kita tidak boleh minum obat, pergi ke dokter tetapi kita harus terlebih dahulu ber­tanya kepada Tuhan, mengandalkan Tuhan. Jangan sam­pai karena kita hidup dalam dunia logika, secara tidak sadar kita melakukan sesuatu otomatis dengan kebiasaan kita.

Seringkali ketika kita menghadapi sesuatu, kita berusaha dulu sampai kehabisan akal baru ingat Tuhan. Padahal Tuhan mau menjadi yang pertama diandalkan. Pertolongan datangnya hanya dari Tuhan (Mazmur 121:1-2). Perkataan “terkutuklah” jauh lebih me­ngerikan dari yang kita bayangkan. Berarti me­ngandalkan manusia itu dosa yang sangat serius.

Ulangan 28:15-46 membahas tentang apa yang akan terjadi jika kita menjadi orang terkutuk. Semua kutuk ini akan menghampiri orang yang mengandalkan manusia. Jika kita sudah setia mengikuti dan melayani Tuhan tetapi hidup seperti dalam kutukan, marilah introspeksi diri, jangan-jangan kita sudah melakukan dosa ini sehingga hidup terkutuk.

“Janganlah memuji diri karena esok hari,engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu. Biarlah orang lain memuji engkau dan bukan mulutmu, orang yang tidak kau kenal dan bukan bibirmu sendiri.” (Amsal 27 : 1-2).

Siapa pun pasti tahu kalau di muka bumi ini ada orang yang pintar, ada juga yang bodoh. Ada yang kaya dan ada yang miskin. Akan tetapi masing-masing saling menutupi kekurangannya. Adakalanya si kaya butuh si miskin dan sebaliknya si miskin sangat mem­bu­tuh­kan uluran tangan si kaya.

Kalau ada orang disekitar kita yang sering memuji di­rinya sendiri hebat, pintar dan punya teman banyak, pastilah orang tersebut memiliki kekurangan. Kenapa ? Karena seseorang yang rajin memuji dirinya sendiri be­rarti ia tidak percaya diri dan kurang yakin dengan apa yang ada pada dirinya sendiri. Ada yang cantik tapi tak pernah memuji dirinya sendiri cantik, tapi ada orang yang wajahnya kurang cantik dan mendekati jelek tapi selalu memuji dirinya sendiri cantik.

Apakah kita masuk dalam daftar orang-orang yang suka mengandalkan diri sendiri? Atau ‘terlalu’ sering memuji diri sendiri di hadapan orang lain? Kalau ya, berarti itu pertanda Anda akan jatuh dalam waktu dekat. Karena, saat Anda memuji diri sendiri hebat di saat itulah muncul kesombongan dan keangkuhan. Saat dimana kita sombong, maka kita akan lupa diri dan cenderung menganggap orang lain lebih rendah dari kita.

Firman Tuhan 2 Korintus 12:9, meskipun Paulus luar biasa, melakukan banyak mujizat, dia tidak bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Ada duri dalam daging yang Tuhan taruh dalam diri Paulus. Orang dengan karunia yang lengkap tanpa duri dalam daging bisa menjadi sombong. Ingatlah apa pun yang telah kita capai, semuanya adalah kasih karunia Tuhan, jangan kita menjadi sombong.

Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Yeremia 17:7. Ada juga Ulangan 28:1-14 adalah berkat-berkat yang akan kita terima jika mengandalkan Tuhan. Sering kita sulit mengandalkan Tuhan karena banyak ke­kua­tiran terutama jika nanti tidak ditolong. Tetapi orang yang mengandalkan Tuhan tidak akan di­per­malukan (Rom. 10:11).

Logika/pikiran bisa menjadi penghalang berkat bagi kita (Amsal 3:5). Dalam Daniel 3:17-18, Sadrakh, Me­sakh dan Abednego kalau mau hidup aman, tetap de­ngan kedudukan semula cukup dengan menyembah pa­tung saja. Kalau tidak mau, mereka akan dimasukkan ke dalam dapur api. Tetapi mereka hanya mau me­ngandalkan Tuhan dan rela menyerahkan nyawanya. Me­reka tidak mau menyuap tetapi mengandalkan Tu­han, pada akhirnya justru kedudukan mereka diangkat.

Kita terlalu sering merasa diri kita hebat dan sanggup untuk menghadapi segala perkara. Baru perkara kecil saja sudah banyak dari antara kita yang menjerit dan berkata ‘ampun Tuhan’. Setelah Tuhan menolong kita keluar dari sebuah permasalahan, kita langsung lupa segalanya. Seperti kata pepatah “lupa kacang pada kulitnya.”

Kita harus berhati-hati ketika kita merasa hebat, karena kesombongan mampu membuat seseorang tidak bisa menilai segala sesuatu secara obyektif, apalagi ketika menilai diri sendiri lebih cenderung menilai secara subyektif. Bukan berdasarkan kenyataan yang sesungguhnya tapi berdasarkan keadaan dan perasaan diri sendiri. Kita harus menyadari bahwa tanpa Tuhan kita tidak mampu melakukan segala sesuatu dan apa yang ada pada diri kita adalah milik Tuhan. Oleh sebab itu, tidak ada alasan untuk kita menjadi sombong dan menganggap diri lebih hebat.

Sebagai anak Tuhan yang taat dan percaya kepada pertolongan Tuhan, yang kita butuhkan sebenarnya bu­kan pengakuan akan apa yang kita lakukan, tetapi ba­gai­mana kita bisa memberikan teladan yang baik ke­pada semua orang. Berbuatlah kebaikan dengan tulus, berilah pertolongan kepada orang yang membutuhkan dan jangan mengharapkan imbalan saat memberikan bantuan kepada orang lain.

Dalam Alkitab Yakobus 4:16,dituliskan “Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah.”

Setelah membaca beberapa hal tentang memuji diri sendiri dan mengandalkan diri sendiri, saat kita merenung dan menyadari bahwa sikap kita selama ini salah dan terlalu menganggap diri kita paling hebat. Apapun kemampuan, talenta, karunia yang sudah Tuhan berikan, kita harus tetap jalani dengan rendah hati dan penuh tanggung jawab. Bukan untuk bermegah atau membanggakan diri, tetapi untuk dipakai melayani dan memuliakan Tuhan. Kita harus mampu menjadi garam dan terang bagi semua orang.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *