Gandeng DLH ,Pesantren Ngalah Jadikan Pesantren Ramah Lingkungan

 Harianmerdekapost.com- Pasuruan,- Penanganan sampah di Kabupaten Pasuruan mulai menyasar lingkungan pesantren. Pondok Pesantren Ngalah, Sengonagung, Purwosari, dipilih menjadi salah satu percontohan pengelolaan sampah berkelanjutan.

Program kolaborasi antara Pemkab Pasuruan melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) pihak perusahaan bersama ketua DPRD mengusung tema sosialisasi dan Lounching program Pesantren Ramah Lingkungan pada Jum’at ( 11/09/26).

Ketua DPRD Samsul Hidayat,yang di konfirmasi usai kegiatan, ia menjelaskan bahwa pemberian sosialisasi dalam pengelolaan sampah di Ponpes Ngalah sebagai bentuk ikhitiar pemerintah bersama dengan DPRD memberikan edukasi cara mengatasi persoalan sampah dengan baik dan benar.

”Pondok pesantren Ngalah di harapkan nanti menjadi role model ( program percontohan ) dalam pengelolaan sampah bagi pondok pesantren lainnya . Sebab, di sana berkumpul banyak orang. Ketika aktivitas warga pesantren tinggi, otomatis potensi sampah yang dihasilkan juga mengikuti,” jelas politisi PKB ini

Samsul menambahkan,Besarnya aktivitas di Ponpes Ngalah tergambar dari jumlah penghuninya. Pondok tersebut menaungi 19 asrama dengan populasi hampir 10 ribu santri,berdasarkan penelusuran data DLH ( Dinas Lingkungan Hidup ), sampah yang dihasilkan Ponpes Ngalah mencapai hampir enam ton dalam sepekan.”Ini jelas menjadi persoalan serius jika tidak ditangani dari hulu,” tegas Samsul.

Selama ini, pengelolaan sampah di lingkungan pondok masih cenderung konvensional. Sampah dikumpulkan dari masing-masing asrama. Kemudian dibawa ke tempat penampungan sementara (TPS), dipilah seadanya, lalu sebagian dibakar.

Melalui program baru tersebut, mendorong pesantren ada perubahan dalam pengelolaan. Sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah yang seluruhnya harus dibuang. Pemilahan dilakukan sejak dari sumber dengan memisahkan sampah organik dan anorganik.

DLH tidak hanya memberikan sosialisasi. Fasilitator juga diterjunkan untuk memberikan pelatihan teknis kepada pengelola dan warga pesantren. Kebutuhan sarana dan prasarana pendukung juga mulai dipetakan sesuai kewenangan dinas.

READ  Suhadak: "Terimakasih Bapak Bupati,Kalau Jalannya Dibangun Pakai Beton Seperti Ini Tidak Hancur

Pria yang akrab di panggil Lek Sul menambahkan, tantangan berikutnya bukan sekadar menyediakan tempat sampah atau sarana pemilahan. Yang lebih penting adalah mengubah kebiasaan ribuan santri.

”Kekompakan di Ponpes Ngalah luar biasa, mulai dari pengasuh induk, pengasuh asrama, pengurus, hingga tenaga pendidik dari tingkat TK sampai perguruan tinggi. Sekarang tinggal membentuk pembiasaan dan perilaku santri dalam memilah sampah,” katanya.

Santri yang terbiasa memilah dan mengelola sampah di pondok diharapkan membawa kebiasaan tersebut ketika kembali ke keluarga dan masyarakat.”Kami berharap model pengelolaan di Ngalah ini bisa berhasil dan direplikasi di pesantren-pesantren lain,” pungkasnya.

Pondok Pesantren Ngalah Sengonagung terus mendorong tumbuhnya kesadaran lingkungan melalui pengelolaan sampah yang melibatkan santri sebagai bagian penting dari perubahan. Melalui kegiatan sosialisasi pengolahan sampah berbasis santri, pengelolaan sampah diarahkan untuk dimulai dari sumbernya, yaitu dari lingkungan asrama.

Pendekatan ini menanamkan kebiasaan sederhana namun berdampak besar: memilah sampah sejak awal, mengurangi timbulan, menggunakan kembali barang yang masih memiliki manfaat, serta mendaur ulang sampah yang memungkinkan untuk dimanfaatkan melalui prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle).

Sampah yang memiliki nilai ekonomis kemudian diarahkan untuk dikelola melalui Bank Sampah ,untuk selanjutnya di pilah pilah menjadi nilai ekonomi sekaligus menjadi media pembelajaran bagi santri untuk membangun kepedulian, kedisiplinan, dan tanggung jawab terhadap lingkungan.

Lebih dari sekadar kegiatan pengelolaan sampah, gerakan ini diharapkan menjadi bagian dari pendidikan karakter. Santri tidak hanya belajar tentang kebersihan, tetapi juga belajar bahwa menjaga lingkungan merupakan bentuk tanggung jawab bersama.

Kegiatan mendapatkan dukungan dari Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan dan PT Coca-Cola Europacific Partners Indonesia (CCEP Indonesia) sebagai bentuk sinergi dalam mendorong pengelolaan sampah yang berkelanjutan serta memperkuat peran generasi muda dalam menjaga lingkungan…izz

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *