Mana Dulu Mental Atau Finansial?

Foto terbaru saat kunjungan kemarin ke Pegaf ( gambar membelakangi danau Anggi)

Harianmerdekapost.com.,Manokwari Papua Barat – Melalui Via Whatsap Dokter Silvester saat di konfirmasih Wartawan Harianmerdekapost.com Rabu siang (13/12)wit mengatakan.

Bagi PNS ada 2 macam pensiun : pensiun reguler atau pensiun normal dan satu lagi pensiun dipercepat. Pensiun reguler adalah ketika Silvester memasuki usia tertentu, pada umumnya.

Ada lagi pensiun dipercepat, atau Dokter,PNS memasuki masa purna bhakti sebelum usia yang seharusnya tadi. Pensiun dipercepat ini ada dua macam lagi : ‘dipaksa’ pensiun atau dengan sengaja mengambil pensiun lebih awal, dengan berbagai alasan.

tidak banyak berubah. Hanya terjadi ‘perpanjangan’ batas pensiun untuk PNS yang menduduki eselon I , eselon II ataupun jabatan profesional yang awalnya maksimal hanya sampai usia 60 tahun menjadi 62 tahun.

Batas usia pensiun bagi pebisnis bisa jadi akan lebih fleksibel tergantung dari skill dan knowledge yang dimilikinya. Namun berapapun usia pensiun yang Anda pilih, persiapan yang matang dalam menyambut pensiun mutlak ada lakukan.

Inilah istilah yang kerap ‘menjerumuskan’ orang bahwa masa pensiun adalah masa-masa emas yang menyenangkan untuk dinikmati. Benarkah? “Golden age hanya semacam istilah,” ujar Dokter Silvester yang sepakat bahwa masa pensiun bisa menjadi masa emas ketika kita sudah menyiapkannya dengan baik. Yang sering dilupakan orang adalah proses menuju masa keemasan itu.”

Seseorang bisa disebut berada dalam level golden age ketika seseorang bisa mempertahankan standar hidupnya sama seperti sebelum ia pensiun. “Kebanyakan masyarakat Indonesia hanya concern pada tahun saat dia berhenti bekerja. Pada kata pensiunnya.Untuk sebagian orang, momen ini dimanfaatkan untuk berpindah kuadran atau pindah karir. Inilah yang disebut kuadran kedua.

Contoh, setelah pensiun sebagai seorang Dokter.Silvester ,bisa pindah kuadran menjadi seorang dosen. Atau berbisnis. Di sisi lain ada pula yang setelah pensiun mencoba meneruskan kembali passion nya yang terbengkalai karena kesibukan berkarir.

See also  Program Pentahelix Berantakan, Diskominfo Dituding Main Caplok Ide dan Gagasan

Ketika Anda berhenti berkarir dan memutuskan untuk mendalami kegiatan sosial atau lebih fokus pada kegiatan keagamaan, landasan finansial Anda mutlak harus kuat. Keluarga harus menjadi prioritas nomor satu. Setelah itu, Anda boleh menuruti kata hati

Mana Dulu: Mental atau Finansial?

Jika pemerintah menyiapkan dana pensiun untuk para pegawai negeri sipil dan perusahaan menyediakan tunjangan pensiun untuk karyawannya, lucunya tidak satu pihakpun yang membantu persiapan mental mereka yang memasuki masa pension, Ini yang sering dilupakan.

Kebanyakan orang hanya menyiapkan segi finansial. Padahal persiapan mental itu sangat penting…..Sebagai kepala rumah tangga, Anda tetap akan memikul tanggung jawab sebagai pemimpin keluarga. Ketika dari segi finansial Anda tercukupi, namun ada kesenjangan dalam hal persiapan mental, kemungkinan besar finansial Anda akan terkuras lebih banyak, untuk pengobatan karena sakit yang diakibatkan stres ataupun karena Anda dan keluarga melakukan impulsive buying besar-besaran.

Sayangnya, baik pemerintah sebagai ‘bos’ dari para PNS dan perusahaan-perusahaan, tidak memberikan pembekalan mental menjelang pensiun. “Perusahaan hanya berkewajiban memberikan tunjangan pensiun sesuai peraturan Departemen Tenaga Kerja. Tapi tidak wajib memberikan pembekalan.

Kalaupun ada perusahaan yang memberikan pembekalan tersebut, itu merupakan bentuk kepedulian dari perusahaan kepada karyawannya.Hal yang perlu disoroti bahwa perusahaan tidak melakukan itu karena tidak ada profit untuk perusahaan. “Padahal sebetulnya ada. Dengan diadakannya pembekalan itu para karyawan akan sangat loyal terhadap perusahaan. Dia akan berpromosi terus bahkan hingga dia pensiun bahwa perusahaan tempatnya pernah bekerja adalah perusahaan yang bagus.Namun jika tidak, ini akan menjadi perjuangan Anda sendiri.”

Pensiun Bukan Bencana

Sebagian orang masih melihat fase pensiun sebagai bencana. Ia merasa semakin tua, tidak berdaya, tidak berguna dan orang-orang di sekitarnya tidak lagi menghargainya seperti ketika ia masih menjabat.
Pada titik inilah biasanya muncul power post syndrome. Hal ini sebagai hukum tabur tuai. Ketika Anda masih menjabat Anda sering membuat keputusan yang tidak bijak dan berlaku semena-mena, sudah pasti orang-orang akan berteriak kegirangan ketika Anda pensiun.

See also  Hardiknas, Bupati Sumenep Ajak Para Guru untuk Didik Karakter Siswa

Saat terlambat menyadari itu, Anda kontan akan merasakan sindrom tersebut. Jadi jangan salahkan pensiun Anda ketika hal itu terjadi.”Pensiun menjadi berkah dalam hidup Anda ketika Anda bisa menikmati kebahagiaan sekecil apapun yang datang kepada Anda.

(Amatus Rahakbauw.K )

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *