Luruskanlah Jalan Bagi Tuhan.

Penulis/Editor : Amatus.Rahakbauw.K

Berita, Daerah908 Views

Harianmerdekapost.com.,Papua Barat – Selaku Ketua Pemuda GPdi Bethesda Fakfaksaat di Konfirmasi Wartawan melalui Via Whatsapp usai Ibadah minggu siang (10/12)wit.

Dalam Ibadah Minggu Pdt.Clarce Bonsafia/Fakdawer Menyampaikan Firman Tuhan Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus, Pada Renungan Harian Minggu 10 Desember 2023. Dalam bacaan Injil Markus 1:1-8 hari ini, bercerita tentang Luruskanlah jalan bagi Tuhan.

Memberitakan kabar baik
Berita apa yang paling dinanti-nanti oleh orang yang sedang berada di penjara? Berita bahwa masa hukuman mereka sudah selesai dan mereka akan segera bebas.

Pertanyaannya, apakah umat Israel yang di pembuangan memiliki pengharapan bahwa satu hari kelak penghukuman Allah akan berakhir?

Kitab Nabi Yesaya ini (pasal 40-66) adalah kumpulan nubuat pemulihan yang Allah lakukan terhadap umat-Nya, yang akan selesai menanggung hukuman karena dosa-dosa mereka.

Pemulihan itu tidak hanya untuk kebebasan, tetapi untuk kembali menjalankan fungsi semula mereka yaitu menjadi terang bagi bangsa-bangsa.ujar Ketua Pemuda GPdi Bethesda Fakfak

Perikop hari ini merupakan nubuat pembuka bagi serangkaian nubuat kabar baik tersebut. Kabar baik itu memiliki dua sisi.

Sisi pertama, kabar itu mematahkan pandangan pesimis atau sinis terhadap janji Tuhan. Mungkin sebagian umat yang terbuang sudah menutup hati dan pikiran mereka akan janji pemulihan Tuhan, karena masa penghukuman yang begitu lama.

Sebaliknya, mereka yang ambil andil dalam pembuangan umat Tuhan merasa Tuhan tak berdaya menyelamatkan umat-Nya.kata Pontius.

Namun pandangan manusia yang keliru itu dibantah oleh firman yang kekal, yang tidak berubah, dan yang pasti mencapai maksud penggenapannya (ayat 8).

Sisi kedua, kabar baik itu harus ditanggapi secara positif dan antusias (ayat 3-4), seantusias pembawa kabar baik itu sendiri (ayat 9-11).

Bagaimana menanggapi kabar baik itu? Dengan menyiapkan hati yang lembut untuk menyambut kedatangan Tuhan dalam hidup.

Bila orang bisa menanggapi kabar baik dengan hati terbuka, itu merupakan anugerah dan pekerjaan Roh Kudus. Namun tugas pemberitaan kabar baik ada di bahu setiap orang yang mengaku percaya.

Tidak ada orang yang lebih tepat untuk memberitakan kabar baik itu selain kita yang sudah mengalami pengampunan dan pemulihan-Nya lebih dahulu. Andakah orangnya?

Bacaan ini menyatakan kepastian kedatangan Yesus yang kedua kali, walaupun kita tidak tahu saatnya.

Pandangan ekstrim tentang kedatangan Yesus yang kedua kali terbagi dua. Ada orang-orang yang menganggap kedatangan itu tidak mungkin terjadi (ayat 4).

Namun ada juga orang-orang yang begitu yakin terhadap kedatangan itu sampai sibuk menghitung-hitung tanggal kedatangan-Nya. Lalu bagaimana seharusnya sikap kita?

Petrus mengajarkan tiga hal penting mengenai kedatangan Yesus yang kedua. Pertama, Tuhan adalah kekal dan tidak dibatasi ruang dan waktu.

Perspektif waktu Tuhan berbeda dengan manusia (ayat 8). Masalah waktu kedatangan Yesus yang kedua kali ada dalam kedaulatan Allah. Kita tidak dapat memperkirakan waktu itu.

Yang dapat kita lakukan adalah menanti dengan sikap berjaga-jaga (ayat 10, band. 1 Ptr. 4:7; Mat. 24:36-44).

Kedua, Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya (ayat 9). Meski terasa lama, Tuhan tidak melupakan janji kedatangan-Nya. Petrus menyatakan bahwa “penundaan” itu bukan karena Tuhan lalai, melainkan karena kasih-Nya yang mendalam kepada manusia.

Tuhan masih ingin memberi waktu kepada manusia agar mengenal Dia dan bertobat dari dosa mereka. Jika Yesus belum datang juga, hal itu harus dilihat sebagai tanda kesabaran dan kasih-Nya.

Ketiga, kita harus melihat kedatangan Yesus dari dua perspektif, yaitu kehancuran dunia (ayat 11-12) dan pengharapan (ayat 13).

Kedatangan Yesus menandai akhir dunia ini dengan penghancuran dunia dan penghukuman kepada orang yang tidak percaya.

Namun orang percaya punya pengharapan akan langit dan bumi baru yang penuh kebenaran (band. Why. 21:1-4).

Hendaklah kita tidak ragu dalam menantikan kedatangan Yesus. Keyakinan itu seharusnya memacu kita untuk hidup dalam kekudusan dan kesalehan (ayat 11).

Orang Kristen harus hidup dengan mengingat terus hari kemuliaan itu. Pada hari itu Yesus akan datang kembali dan memberi mahkota kepada mereka yang hidup dalam kesalehan dan setia bekerja bagi Dia (band. 2 Tim. 4:8; 1 Ptr. 5:4). Tuhan tidak pernah melupakan janji-Nya.

Injil hari ini, Menyambut kedatangan Kristus
Setiap kisah pasti memiliki permulaan. Untuk permulaan Injil yang dia tulis, Markus memuat kisah pelayanan Yohanes Pembaptis di padang gurun.

Yohanes Pembaptis adalah utusan Allah untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan Anak-Nya, yaitu Yesus Kristus.

Pada masa PL, seorang pembawa pesan akan mendahului kedatangan seorang raja. Utusan itu bertugas memastikan bahwa jalan yang akan dilalui raja cukup aman.

Ia juga bertugas mempersiapkan rakyat menyambut raja. Dalam rangka menyambut kedatangan Kristus, Yohanes mempersiapkan orang untuk menyambut kedatangan-Nya dan kemudian mengikut Dia.

Nabi Yesaya menyebutkan bahwa khotbah yang disampaikan Yohanes bagai buldoser yang digunakan untuk membangun jalan bebas hambatan. Jalan itu membuat Tuhan dapat mencapai tempat yang tertutup bahkan terisolasi.

Lalu bagaimana cara membuat jalan itu? “Setiap lembah harus ditutup, dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran (Yes. 40:4).

Itulah gambaran pertobatan yang diserukan Yohanes, yakni runtuhnya puncak kesombongan, tertimbunnya lembah kekelaman, dan lurusnya hati yang bengkok.

Ada pemulihan dan ada baptisan sebagai simbol pengampunan dosa. Namun Yohanes tahu itu tidak cukup. Perlu sesuatu yang lebih dari baptisan di sungai Yordan.

Ia paham bahwa baptisan yang dia lakukan hanya sebuah persiapan, karena Yesus akan datang dan akan membaptis mereka dengan Roh Kudus.

Bagaimana dengan hidup kita? Sudahkah mengalami pemulihan? Ingatlah bahwa Kristus akan datang untuk yang kedua kali pada saat yang kita tidak ketahui.

Sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menyambut Dia? Masihkah ada lembah yang harus ditutup? Masihkah ada gunung dan bukit yang harus diratakan? Mintalah Tuhan membereskan semua itu agar menjadi jalan yang rata saat Ia datang nanti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *