Legenda Kapal Bandong, dari kapal angkut menjadi kapal wisata**

Budaya, Daerah208 Views

Harianmerdekapost.com.Kubu raya,Kalbar 25 Juni 2024 – Kapal bandong, salah satu warisan budaya maritim Kalimantan Barat, memiliki sejarah panjang yang mencerminkan kekayaan tradisi dankehidupan masyarakat di wilayah tersebut. Kapal tradisional ini telah berperan penting dalam kehidupan sehari-hari penduduk di sepanjang Sungai Kapuas sejak abad ke-19.

Kapal bandong pertama kali muncul sebagai alat transportasi utama untuk mengangkut barang-barang seperti hasil pertanian, perkebunan, dan hasil hutan dari pedalaman Kalimantan Barat yang di gerakan dengan mesin disel, ke kota-kota di sepanjang Sungai Kapuas. Bentuknya yang khas dengan dek yang luas dan atap yang melengkung dibuat dari kayu ulin, dikenal dengan kekuatan dan ketahanannya cukup lama terhadap air.

Kapal bandong tidak hanya berfungsi sebagai alat transportasi, tetapi juga sebagai tempat tinggal sementara bagi para pedagang dan keluarganya saat melakukan perjalanan jauh. Ini menunjukkan bagaimana masyarakat Kalimantan Barat sangat bergantung pada jalur sungai untuk berbagai aktivitas ekonomi dan sosial.”

Pada masa kejayaannya, kapal bandong menjadi pemandangan umum di Sungai Kapuas. Kapal-kapal ini biasanya dioperasikan oleh satu keluarga yang tinggal di atas kapal selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Selain mengangkut barang, kapal bandong juga digunakan untuk berdagang langsung di sepanjang rute perjalanan, membawa berbagai barang dagangan ke desa-desa yang dilalui.

Namun, seiring dengan perkembangan transportasi modern dan infrastruktur jalan, penggunaan kapal bandong jauh mulai berkurang. Pada akhir abad ke-20, banyak kapal bandong yang beralih fungsi atau bahkan ditinggalkan. Namun, upaya pelestarian mulai digalakkan kembali pada awal abad ke-21, dengan pemerintah daerah dan komunitas setempat berusaha menghidupkan kembali tradisi ini sebagai bagian dari warisan budaya yang harus dilestarikan.

“Melestarikan kapal bandong adalah bagian dari menjaga identitas budaya kita,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Kalimantan Barat, Linda Sari. “Kami ingin memastikan generasi muda memahami dan menghargai sejarah ini, sambil juga memanfaatkannya untuk mempromosikan pariwisata lokal.”

See also  Panen Perdana Tembakau di Pulau Bawean, Momentum Awal Jadikan Tembakau Sebagai Komoditi Andalan

Kini, kapal bandong tidak hanya menjadi simbol sejarah, tetapi juga daya tarik wisata yang menawarkan pengalaman unik bagi para pengunjung. Wisatawan dapat mengikuti tur menggunakan kapal bandong, menyusuri Sungai Kapuas sambil belajar tentang sejarah dan budaya setempat.

Kisah kapal bandong adalah cerminan dari adaptasi dan ketahanan masyarakat Kalimantan Barat dalam menghadapi perubahan zaman. Melalui upaya pelestarian yang terus tetap dilakukan, kapal bandong diharapkan tetap menjadi bagian integral dari kehidupan dan budaya di wilayah ini, serta menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang.

Sy.yusuf ,arifin subair (tim HMP )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *