Harianmerdekapost.com – Malang– ,Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Nazaruddin Malik, menantang Ikatan Alumni (IKA) UMM untuk mewujudkan program living class bagi para mahasiswa. Tantangan ini disampaikannya dalam agenda Sosialisasi dan Rapat Koordinasi AD-ART, Peraturan Organisasi (PO), dan Program Kerja (Proker) yang digelar di Rayz Hotel UMM, Minggu (1/11/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri jajaran rektorat, antara lain Wakil Rektor II Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., CA. (Bidang Umum dan Keuangan), Wakil Rektor III Dr. Nur Subeki, M.T. (Bidang Kemahasiswaan dan Alumni), Wakil Rektor IV Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D. (Bidang Riset, Pengabdian, dan Kerja Sama), serta Kepala Biro Administrasi Kemahasiswaan dan Alumni (BAKA) UMM, Dr. Tatag Muttaqin, S.Hut., M.Sc.
Di hadapan pengurus IKA UMM dari tingkat pusat, fakultas, program studi, hingga wilayah, Prof. Nazaruddin menegaskan bahwa kekuatan utama jaringan alumni terletak pada living plus atau transaksi nilai pengalaman hidup, bukan sekadar bantuan rekrutmen kerja.
“Kita berharap ada transaksi nilai yang sebenarnya pada setiap pertemuan itu. Seperti hadirnya konsepsi arsitektur pendidikan UMM yang baru, yang kita sebut Industry Solution Partner (ISP),” ujar Prof. Nazaruddin.
Ia menjelaskan bahwa ISP—yang dalam literatur aslinya dikenal sebagai Society and Industry Partnership—menuntut agar pendidikan tidak terpisahkan dari masyarakat. Dalam konsepsi Islam, pendidikan idealnya melahirkan insan paripurna yang berdaya serta bermanfaat dalam kehidupan nyata.
“Dari alumni itu penting adanya transaction value seperti pada ISP. Mereka membawa cerita dari berbagai latar belakang kehidupan yang kemudian menjadi literature review bagi adik-adiknya,” jelasnya.
Menurut Rektor, keberadaan living class merupakan keunggulan perguruan tinggi yang memiliki basis alumni kuat sekaligus menjadi kunci peningkatan kualitas pendidikan di UMM. Pengalaman praktis alumni—seperti yang berprofesi sebagai akuntan, kontraktor, hingga praktisi di sektor pemerintahan dan ekonomi—memberikan wawasan berharga yang tidak tercantum dalam buku teks. Sebagai contoh, alumni bidang ilmu pemerintahan dapat membagikan pengalaman nyata terkait dinamika rapat anggaran bersama DPR.
Oleh karena itu, ia berharap rakor dan sosialisasi ini tidak hanya menghasilkan dokumen organisasi semata, tetapi juga melahirkan program kerja kolaboratif berbasis bottom-up.
“Jika teman-teman punya relasi yang bisa dikoneksikan untuk pembelajaran di UMM, mengapa tidak? UMM juga menyediakan berbagai pelatihan yang bisa diikuti alumni untuk menambah referensi keilmuan,” tambahnya.
Ia meyakini, alumni dari berbagai angkatan—termasuk yang baru lulus 3 hingga 4 tahun lalu—tetap memiliki living plus yang kuat apabila telah melangkah di jalur yang tepat sejak masa perkuliahan.
Dorong Sinergi dan Aksi Konkret
Rangkaian acara tersebut juga diwarnai dengan penyampaian masukan dari para pengurus IKA Fakultas, Prodi, maupun Wilayah. Mayoritas peserta mendorong kepengurusan pusat IKA UMM untuk segera mengambil langkah konkret dan memperkuat sinergi dengan IKA di tingkat fakultas dan prodi.
Salah satu cerita menarik datang dari pengurus IKA Fakultas Kedokteran angkatan pertama. Ia mengisahkan perjuangan masa awal lulusan yang harus merintis karir dan mencari tempat latihan secara mandiri.
“Kami ingin memberi kontribusi agar adik-adik mahasiswa siap menghadapi tantangan ke depan, merasa nyaman, dan terbantu dalam memperoleh lapangan pekerjaan,” ungkapnya.
Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Ketua IKA UMM periode 2023–2028, Dr. M. Irsyad Yusuf (Gus Irsyad), menyambut positif seluruh masukan yang berkembang. Ia menegaskan bahwa seluruh saran dan gagasan dari alumni bertujuan untuk mendorong kemajuan UMM secara berkelanjutan.
Editor: Izzan






