Yayasan Hotline Siap Dampingi Kasus perilaku kenakalan remaja ” Exploitesseksual” Pada Anak-anak

banner 300250

banner 300250

Surabaya harianmerdekapost.com
Yayasan Hotline Lembaga Nirlaba yang konsen didalam cara mengurus perlindungan atau menangani dan pendampingan  terhadap kasus exploites seksual, kekerasan seksual terhadap anak yang di lacurkan atau menjual diri, kasus ini sangat berkembang saat ini di masyarakat, kasus ini banyak terjadi pada anak yang usianya di bawah umur antara 12 – 15 tahun,contohnya seperti kenakalan remaja dan gaya hidup anak muda di Indonesia terutama di kehidupan sehari-hari dalam pergaulan remaja, yaitu penyimpangan Seks, kekerasan seks pada anak dan Seks Bebas. (7/3/2020).

Exploites seksual  terhadap anak banyak terjadi di kalangan keluarga, teman dekatnya ataupun di Sosmed, banyaknya kasus ini terjadi pada anak usia sekolah menengah atau di bawah umur 12- 15 tahun dan sangat rentan terjadi, mengakibatkan ke hamilan di luar nikah dan kekerasan seksual terhadap anak-anak atau remaja yang di lacurkan.

Machrus Program Manager Yayasan Hotline Surabaya menyatakan “Istilah AYLA (anak yang dilacurkan), ESKA (Eksploitasi Seksual Komersial Anak) atau CSEC (Comercial Sexual Exploitation of Children) adalah istilah yang berbeda tapi bermakna sama. Jadi kalo ada 3 istilah diatas yang muncul kita tidak perlu bingung

Program Yayasan Hotline ini adalah program perlindungan dan proses pendampingan kasus – kasus Exploites seksual anak , sangat peduli dalam kasus tersebut seperti kekerasan seksual pada anak di bawah umur untuk menjual diri atau untuk sebagai profesi kepada penikmat Seks demi gaya hidup dan trauma yang di alami masa kecilnya atau penyimpangan Seksual terhadapnya.

Menurut keterangan Mahrus kepada awak media,bertempat di ECoffe Jl. Lesti No 35 Surabaya menyatakan ,” Kalau ngomong PSK kan itu memposisikan anak sebagai pelaku apalagi ngomong PSK (Pekerja Sex komorsial) itu menjadi kayak profesi, kan jadinya itu mangkanya istilah yang kemudian kami kesepakati bersama, seperti kasus kak Hana anak yang dilacurkan dalam  konteks yang bahasa Indonesia nya di isu ini kami mendampingi anak-anak secara langsung kami punya Selter sudah dari 2015, yang AYLA dampingi sekitar 389 anak, belum lagi kalau ditotal isu-isu yang lain isu kekerasan seksual ,isu kehamilan yang tidak diinginkan itu jadi banyak lagi kasusnya yang kami dampingi masalah yang di hadapi anak-anak ini adalah ketika sudah direhabilitasi,sudah di proses didampingi dan sebagainya ketika mereka kembali ke masyarakat.

Mahrus berharap isu ini menjadi isu yang kemudian bisa di angkat karena selama ini nomenklatur kita di undang-undang perlindungan anak di Indonesian itu tidak ada yang menyebut anak yang di lacurkan yang ada adalah korban kekerasan seksual,korban explotesseksual , explotesi ekonomi ini kan dua – duanya itu dalan konteks kami untuk Ayla itu tidak harus berupa uang karena anak-anak yang kami dampingi anak-anak SMP usia usia 12,14th mereka setelah berhubungan sex dapat pulsa, dapat boneka dan sebagainya tidak melulu dapat uang.ayla ini dalam konteks isu yang kami jalankan tidak harus seksual aktif jadi diraba-raba dapat pulsa itu masuk .kenapa itu masuk karena rentan kesana karena sudah terlanjur ‘oh ngene oleh duwek’ kemudian kalau lebih jauh lagi anak-anak ini rata-rata adalah pernah menjadi korban kekerasan seksual dan explotesseksual,” cetusnya

” Pelakunya rata-rata orang terdekat mereka jadi pelakunya itu ada yang pacar,ada yang dari pihak saudara. ketika mereka jadi korban kekerasan seksual kayak jadi fenomena yang disembunyikan, karena ini menjadi aib bagi keluarga dan sebagainya. lalu si anak korban ini tidak melapor dan sebagainya, takut karena ini sebagai aib dan sebagainya nah jadi pelakunya melakukan berulang-ulang, karena ini menjadi aib yang tidak di laporkan. Program ini juga mendampingi anak-anak ataupun remaja dalam mengenal sex, khususnya usia 12-14 tahun itu memang remaja awal masuk usia pubertas, itu masa peralihan anak-anak remaja banyak mengenal sex sejak usia yang sangat muda, maka cenderung pengendalian diri mereka juga terbatas dan akhirnya mereka bisa berhubungan sex dengan banyak orang berganti-ganti pasangan dan sebagainya. nah, setelah itu biasanya dimanfaatkan oleh teman dekat yang tidak bertanggung jawab. awal mula seperti inilah yang menjadikan mereka terjerumus ke dunia prostitusi. Hal seperti inilah yang perlu di mengerti oleh masyarakat ,”

Lanjut ” masyarakat umum bahkan di Media itu ketika di blow up seperti contohnya kasus traffiking  di ungkap oleh Polrestabes Surabaya awalnya ” karena gaya hidup, remaja menjual diri ” tetapi sebetulnya mereka mempunyai riwayat panjang ,akar masalah dari anak-anak adalah di mereka tidak menemukan sosok ayah dan ibunya di keluarga, meskipun  secara fisik pada akhirnya ia berhubungan dengan  laki-laki atau perempuan yang lebih dewasa atau mecari sosok ayah atau ibu di luar. Itupun kalau pasangannya orang nya baik, kalau tidak dia akan dimanfaatkan.
kami yakin tidak ada seorangpun manusia di dunia ini yang punya cita-cita jadi pelacur, kenapa mereka terjerumus karena ada proses riwayat yang tidak selesai , mungkin di titik sekarang adalah soal gaya hidup,”  katanya

” Kami kemudian dalam beberapa tahun terakhir rata-rata anak anak yang kami dampingi 50 anak, memang tidak ada penelitian secara resmi jumlah AYLA di Indonesia itu berapa ,pada tahun 1999 yang saya tulis di lakukan oleh teman teman Jogyakarta 30% dari PSK  dewasa  adalah anak anak angkanya sekitar 150 rb sampai 300 rb, sekarang mungkin lebih banyak , asumsi kita karena tidak ada penelitian resmi kemudian menyebutkan angka sangat bervariatif AYLA ini Hidden tidak memunculkan diri nya 10% yang kami dampingi sekitar ribuan itu di Surabaya,itu yang kita mau angkat sebetulnya karena isu ini tidak banyak orang paham , tidak paham orang berproses di sini dan proses penanganannya berbeda antara korban kekerasan seksual , korban exploitesseksual, dengan anak di lacurkan itu penanganannya berbeda ,kalo korban pemerkosaan, korban kekerasan seksual itu trauma nya di hilangkan kemudian dia bisa balik lagi rasa takutknya hilang balik lagi, prosesnya sama , kalo AYLA ini kan trauma kekerasan di hilangkan  habit prilakunya di rubah, jadi kemudian berbeda tapi di proses penanganan  yang kalo merujuk ke undang undang kita tidak bisa seperti itu karena dia kembali lagi dan kembali lagi. ” terangn Mahrus, sebagai Program Manager Yayasan Hotline Surabaya.

Kasus- kasus seperti ini cukup pelik ini berkembang di masyarakat dengan adanya Yayasan Hotline Surabaya Siap mendampingi Dalam proses sampai untuk mengentaskan anak anak dari kasus kenakalan remaja, kekerasan seksual anak dan Exploitesseksual untuk di pulihkan dan di kembalikan ke masyarakat atau keluarga.

Editor (Red)
Jurnalis (syt)

banner 300250