oleh

Wartawan Bukanlah Lawan dan Dilindungi Undang-Undang

Surabaya, harianmerdekapost.com Penggrebekan hiburan dunia malam diwarnai kericuhan antara jurnalis, dengan mami dan salah satu Oknum (Satpol PP) Satuan Polisi Pamong Praja Kota Surabaya, serta pemilik cafe Santoso.

Kejadian berawal dari awak media yang mengikuti operasi Yustisi di tempat-tempat hiburan.

Cafe Santoso yang terletak di jalan Kenjeran Surabaya, operasi Yustisi yang digelar bersama jajaran Satpol PP dan Polri.

Menurut keterangan dari awak media, kegiatan peliputan sudah meminta ijin oleh petugas komandan Satpol PP dan polisi, petugas pun mempersilahkan ambil gambar dan menyetujui tentang peliputan tersebut. Ketika awak media mulai mengambil dokumen gambar dan video disitu ada mami-mami dan ada salah satu Oknum Satpol PP yang tidak setuju dengan adanya peliputan tersebut.

Karena sudah ijin untuk melakukan kegiatan liputan, akhirnya wartawan beberapa awak media tersebut tetap melakukan giat peliputan sesuai profesi sebagai jurnalis dan mengontrol sosial.

“Anehnya ditengah keributan terjadi ada salah satu Oknum Satpol PP  yang justru melarang dan seakan-akan membela pemilik cafe untuk tidak melakukan peliputan,” ujarnya Halim. (28/9/2020) Malam.

Jelas dalam Undang-undang pers No. 40 tahun 1999 bahwasanya insan pers dilindungi hukum untuk melakukan peliputan dan dari sisi lain. “Tugas awak media adalah sebagai kontrol sosial yang bilamana dalam suatu penindakan harus ada keterbukaan untuk disajikan ke masyarakat,” tambahnya.

Hingga berita ini di luncurkan sehingga masih belum ada yang dapat di konfirmasi mengenai larangan peliputan oleh Oknum Satpol PP Kota  Surabaya (“)

Untitled-1
Untitled-1
WhatsApp Image 2020-10-12 at 21.14.59
WhatsApp Image 2020-10-12 at 21.14.59 (1)
WhatsApp Image 2020-10-13 at 14.18.12
WhatsApp Image 2020-09-30 at 06.08.24
WhatsApp Image 2020-09-28 at 08.08.0

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed