Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Gelar Simposium Kebinnekaan di Gedung DPRD Kota Surabaya

Harianmerdekapost.com, Surabaya –  Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) surabaya melaksanakan simposium kebinnekaan di Gedung DPRD Kota Surabaya pada Jumat, 25 November 2022.

Penanganan Konflik Sosial di tengah padatnya masyarakat kota surabaya menjadi Grand Design utama dalam simposium kebhinnekaan, melihat surabaya sebagai kota metropolis yang masyarakat nya terdiri dari bermacam-macam ras, suku, budaya dan agama, tentunya akan menjadi corong peradaban terhadap kemajuan kota melalui keberagaman nya dalam bingkai kebangsaan.

Herlina Harsono Njoto menjadi narasumber pada acara simposium kebhinnekaan, karena sepak terjang dan pengalaman nya yang sangat luar biasa sehingga dirasa sangat layak untuk membagi ilmu, pengetahuan dan pengalaman nya terhadap mahasiswa PMM2.

Terbukti, sosok herlina terpilih menjadi anggota dewan kota Surabaya sejak tahun 2009 hingga sampai saat ini. Dunia akademisi tentunya tidak pernah di tinggalkan, sampai saat ini beliau masih melanjutkan program doctoral jurusan psikilogi di universitas airlangga Surabaya.

Herlina mengatakan bahwa konflik sosial akan terus ada karena menjadi bagian dari proses kehidupan. Tetapi, dengan hadirnya kita di tengah-tengah masyarakat untuk mendampingi mereka, mendengarkan apa yang menjadi harapan mereka serta ikut menyelesaikan berbagi persoalan yang terjadi di masyarakat dapat meminimalisir terjadinya konflik sosial yang berkelanjutan.

“Sebagai anak muda kita tidak boleh tutup mata terhadap keadaan sosial yang terjadi di masyarakat, karena konflik sosial bukan hanya terjadi antar ras, agama dan golongan. Tetapi persoalan-persolan yang lain dapat memicu terjadi konflik sosial seperti berbeda pilihan politik, sengketa tanah, hutang piutang dan lain sebagainya”. Ucap herlina

Ibarat bom waktu, konflik sosial bersifat multidimensional terjadi hampir seluruh wilayah kota dan kabupaten di seluruh Indonesia setiap saat bisa meledak menjadi aksi kekerasan, anarkisme, dan gangguan sosial. Menguatnya konflik sosial menantang untuk segera dicegah, ditangani, dan diselesaikan secara menyeluruh. Penanganan sporadis dan parsial sudah tak lagi efektif. Butuh teroboson, respon cepat, langkah akurat, dan mendasar.

Terpisah, Dosen PMM Nur’annafi sangat apresiatif terhadap pelaksanaan kegiatan ini. Ia berharap mahasiswa yang sudah memiliki bekal selama manjalani proses pembelajaran di kota surabaya terus aktif mengurusi masalah-masalah sosial kemasyarakatan, terutama masalah konflik sosial di daerah masing-masing nanti. Lebih jauh Nur’annafi mengharapkan mahasiswa tidak anti terhadap politik dan tidak meninggalkan kehidupan politik, karena dengan politik kita dapat berkontribusi lebih banyak terhadap keberlangsungan hidup masyarakat, di harapkan juga mahasiswa di program PMM bergandengan bersama pemeritah daerah dan kepolisian dapat bersinergi dalam menghadapi potensi-potensi konflik di masa yang akan datang. Tutup annafi (red)

EENG INVESTIGATION HMP