oleh

Simon Nahak: Anak Petani Malaka Jadi Bupati

Penulis: Marselus Mali Leto, S.Ag,M.Pd (ASN asal Kletek – Malaka.

Harianmerdekapost.com-Kupang- Pemerhati Sosial Pendidikan,
Alumnus Pascasarjana Undana ) Dr.Simon Nahak,SH.MH kelahiran Weulun-Malaka Barat, 13 Juni 1964. Sebagai anak sulung dari sembilan bersaudara. Ia tidak lahir dari rahim kemapanan, maka ia mengerti betul arti kesederhanaan.

Ia juga tidak dilahirkan oleh kemewahan, maka ia paham betul arti perjuangan. Ia pun tidak lahir dari kemudahan, maka ia akrab betul dengan rasa penderitaan. Jauh dari keramaian kota dusun weulun adalah ‘tempat istimewa luhur di mana bayi mungil Ulu/sulung mencium aroma semesta untuk pertama kalinya 57 tahun yang silam.

Beliau lahir sebagai anak pertama dari sembilan bersaudara dari pasangan ayah Marselinus Taek dan ibu Bernadeta Hoar. Sebagai anak sulung, tentu saja kedua orangtuanya meletakkan harapan yang besar pada pundaknya untuk ‘membuka pintu’ keberhasilan bagi adik-adik dan kalau dapat semua anak dari anggota keluarga besar lainnya. Harapan itu, dijawab dengan sangat sempurna oleh pak Simon.

Jawaban itu tidak dinyatakan dalam retorika yang manis, tetapi dibuktikan dengan prestasi demi prestasi yang diukirnya. Pada akhirnya, keadaanlah yang memaksanya untuk melanglang buana
meninggalkan tanah kelahirannya Malaka.

Dari Betun ia ingin mencari pengalaman
yang lebih jauh dan menantang. Keluar dari Pulau Timor. Ia menuju ke Pulau Dewata
dan mendaftar sebagai mahasiswa di Universitas Warmadewa, Denpasar.

Kondisi keluarga dan kampung yang bersahaja itu menjadi ‘faktor pengingat’ bagi pak Simon untuk tidak membuang kesempatan emas yang diberikan oleh kedua orangtuanya, leluhur dan ‘Sang Pencipta.

Hal itu terlihat dari ‘jejak’ perjalanan pendidikan, karier, ekonomi keluarga dan kiprahnya dalam bidang akademik dan politik yang relatif tidak mengalami ‘hambatan’ yang berarti.

Ia tahu diri dan tahu rasa sebagai anak petani bahwa hanya dengan ketekunan belajar dan kerja, kerja dan kerja keras inilah, apa yang menjadi impiannya sejak kecil bisa terwujud WAKTU pun terus mengalir.

Hidupnya pun terus berubah dalam aliran waktu itu. Kita adalah homo viator (makluk peziarah) yang tak pernah jedah mencari
orientasi dan makna hidup, kata Dr.Simon Nahak kepada penulis disaat coffee morning bersama di rumah Bali.

Dalam perjalanan itu, ada banyak ‘kisah’ yang ditorehkan. Kisah-kisah itu terjelma dalam medan perjuangan,dikampus Warmadewa Bali tempat di mana Simon Nahak ‘mendedikasikan’ diri untuk membahagiakan diri, keluarga, dan sesama. Sejatinya secara kodrat, manusia selalu terarah pada ‘yang lain’.

Seorang anak manusia akan keluar dari ‘cangkang egonya’ untuk menjumpai
‘yang lain’.

Dalam dan melalui perjumpaan dengan sesama itulah, potensi kemanusiaan kita teraktualisasi secara kreatif. Manusia ‘tertantang’ untuk memanifestasikan kerinduan primordialnya dalam ‘membahagiakan sesamanya’. lanjut Dr.Simon Nahak dalam perjalanan kami berdua menuju Bandara International Ngurah Rai Bali kembali Rai/Tanah Timor.

Dr.Simon Nahak,SH.MH. si anak petani tembakau Desa Weulun ini bisa menjadi salah ‘aatu teks’ di mana riwayat perjalanan dalam ‘mengais’ serpihan makna hidup itu terukir indah.

Cerita tentang ‘kemenangan’ paslon SNKT dalam kontestasi Pilkada Malaka 9 Desember 2020, tentu hanya salah satu judul bab dari satu kitab kehidupan
Dr.Simon Nahak yang belum rampung ‘dituliskannya’.

Menjadi kampium kontestasi,
memang menjadi satu fragmen kisah hidupnya yang tidak akan terlupakan dalam sejarah perjuangan politik nasional maupun lokal menjadi caleg DPR RI dari Perindo dan pilkada Malaka.

Pendidikan formal bagi Dr.Simon untuk mengeksplorasi dan mengembangkan
bakatnya dalam dunia hukum. Keseriusannya menekuni dunia pendidikan hingga meraih titel Doktor Hukum tidak hanya dilatari oleh motif ‘mencari kerja’ (job seeker) semata, tetapi terlebih dan terutama menciptakan lapangan kerja (job creator).

Untuk mengasah ketajaman berpikir dan kepekaan sosial, beliau terlibat aktif dalam
organisasi ekstra kampus lainnya. Setelah pondasi ekonomi kian kokoh, pak Simon
memberanikan diri untuk terjun ke dunia politik. Sebuah dunia yang sejatinya sudah
lama digelutinya semenjak aktif sebagai aktivis mahasiswa.

Medan pengabdian kapabilitas politik itu, kini semakin luas. Beliau harus menjadi ‘garam dan terang’ dalam panggung politik lokal Malaka. Partai Perindo menjadi ‘kendaraan politik’ pertama bagi pak Simon untuk menjadi ‘jembatan aspirasi dan pengeras suara publik’.

Pemilu legislatif 2019 menjadi ‘tahun
pembuka’ sepak terjang alumni SMA Sinar Pancasila Betun ini dalam pentas politik
nasional. Dari pemilu legislatif 2019 ini, kepercayaan publik pada pak Simon Nahak
tak pernah surut. Kendati, Partai Perindo tidak lolos dalam abang batas parlemen
dikala itu. Kendati demikikian, beliau tetap sukses merebut para simpatisan publik
untuk berkarya di ruang politik lokal.

Bayangkan, gagal di pileg 2019 pak Simon dengan penuh kepercayaan diri ikut berlaga dalam Pilkada 9 Desember 2020. Dr.Simon Nahak,SH., M.H berpasangan
dengan Louise LuckyTaolin,S.Sos. untuk memperebutkan jabatan bupati dan wakil
bupati Malaka dengan tagline”SNKT” melawan paslon saat itu SBSWT petahana
Malaka. Bersama dengan pak Louise LuckyTaolin,S.Sos, pelbagai tantangan itu bisa diatasi dengan baik. Kini, anak petani sederhana dari Kampung Weulun Malaka Barat itu, resmi menyandang jabatan politik paling prestisius, Bupati dan Wakil Bupati
Malaka periode 2021-2026.

Apresiasi dan proficiat Bupati dan Wakil Bupati Malaka, Arah Baru, Harapan Baru,
Malaka Baru untuk Berubah, Maju dan Sejahtera bersama rakyat Malaka.

News Feed