oleh

RASYID RIDLA: Kontributor Terbesar Aliran Tafsir Modern(Bagian 1)

Bukhori at Tunisi (Pengajar MBS Darul Qur’an, Tanah Bumbu, Kalsel)

Editor: Sudono Syueb

Kalsel, harianmerdekapost.com -Tokoh besar muslim modernis Sumatera Barat, Dr. Syaikh Abdul Karim Amrullah, yang dikenal dengan Haji Rasul, saat mengunjungi Jawa untuk bertemu dengan tokoh pergerakan modern Islam, K.H. Ahmad Dahlan, tanpa disengaja, tuan HAKA (Haji Abdul Karim Amrullah) melihat seseorang di Kereta Api (Spoor) sedang membaca Tafsir al-Manar karya ulama’ besar Syaikh Muhammad Abduh dan Sayyid Rasyid Ridla. Haji Rasul terkejut, di Jawa ada orang yang membaca Tafsir al Manar yang beraliran modern. Karena di beberapa lembaga pesantren, tafsir tersebut dilarang dibaca, bahkan diharamkan. Tuan HAKA menghampiri dan berbincang-bincang akrab dengan orang tersebut, tak disangka, ternyata orang tersebut adalah Kyai Dahlan, Pendiri Muhammadiyah yang sangat terkenal di daerah koloni Hindia Belanda.

Kisah tersebut dituturkan Hamka dalam “AYAHKU”. Bagaimana orang yang setenar dan sebesar Kyai Dahlan di masa penjajahan ternyata dipengaruhi pemikiran modern Abduh dan Ridla. Pemikiran modern ala Abduh dan Ridla yang berjuang untuk mengembalikan ajaran Islam kepada ajaran semula, yaitu kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunnah (al ruju’ ila al-Qur’an wa al-Sunnah) memperoleh respon yang baik di tanah Jawi. Begitu juga respon memodernisasi lembaga pendidikan Islam yang juga dikumandangkan Abduh, memperoleh angin segar di Tanah Jawi, khususnya Yogyakarta, kemudian melebar ke seluruh pelosok kepulauan Nusantara.

Pengaruh langsung Tafsir al-Manar terhadap Modernisasi Islam Indonesia, dimulai sejak Kyai Dahlan belajar di Arab Saudi melalui gurunya, Syaikh Ahmad Khatib al Minangkabawi, yang pemikirannya banyak dipengaruhi oleh faham modernisme Abduh. Tafsir al-Qur’an ternyata banyak memberi inspirasi sikap tokoh, kelompok, dan organisasi tertentu terhadap perubahan, kemajuan, dan modernisasi. Benarlah apa yang dinyatakan Abduh dan Ridla, banyak tafsir yang menitik beratkan kajiannya ke aspek nahwu (gramatika), Sharaf (morfologi), Balaghah (stylistika), fiqih, sufisme, aliran Kalam, menjauhkan semangat al-Qur’an dalam mendorong perubahan dan modernisasi masyarakat, malah menghasilkan masyarakat yang statis, stagnan, lambat merespon kemajuan dan modernisasi, karena selalu berkutat dalam penjagaan warisan (turats) leluhurnya yang “quds” (suci), sehingga menghilangkan “ruh” al-Qur’an sebagai petunjuk (hudan) jalan yang lurus (shirath al mustaqim) untuk membawa kemajuan masyarakat.

Rasyid Ridla sendiri, tertarik kepada modernisme Islam, sejak berada di Syam, tepatnya di Tripoli (طربلوس), Libanon, tanah kelahirannya, saat membaca majalah langganan ayahnya, “Al ‘Urwah al Wutsqa” (العروة الوثقى). Ridla tertarik setelah membaca majalah tersebut karena mengajak ummat Islam kepada “Pan Islamisme” (الجامعة الاسلامية), persatuan ummat Islam se dunia, mengembalikan kejayaan Islam, membebaskan ummat Islam dari penjajahan. Lebih lanjut Ridla mengatakan, “Saya kagum kepada cara majalah “al ‘Urwah al Wutsqa” dalam memberikan argumen (istidlal), metode penalaran untuk lepas dari persoalan (qadliyah) yang menimpa ummat Islam dengan merujuk kepada al-Qur’an dan al-Sunnah (Tafsir al Manar 1: 16).

Majalah “Al ‘Urwah al Wutsqa” (العروة الوثقى), yang diterbitkan Abduh dan Afghani di Paris tersebut memamarkan haluan berfikirnya yang berpegangan kepada:

Pertama, Sunnatullah, bahwa sunnatullah berlaku kepada semua ciptaan Allah tanpa terkecuali, baik manusia, hewan, tumbuhan, alam lingkungan, hingga masalah sosial pun mengikuti sunnatullah. Kuat dan lemahnya masyarakat, Maju mundurnya sebuah bangsa, jaya dan runtuhnya sebuah peradaban (‘umran, hadlarah) mengikuti “Hukum Allah”. Afghani yang menjadi motor majalah tersebut dan didampingi oleh Abduh menjelaskan bahwa kemajuan sebuah bangsa karena ilmu pengetahuan dan ketaatan kepada Agama. Islam mengajarkan kedua prinsip tersebut. Sayangnya kata Afghani, Islam sebagai agama yang mementingkan urusan duniawi dan ukhrawi sekaligus, banyak ditinggalkan oleh ummatnya. Kekuatan militer dan negara digunakan untuk menjaga keadilan, kebenaran dan kemashlahatan umum; bukan untuk menindas, melemahkan, bahkan menjajah yang lain. Semangat Islam adalah semangan “pembebasan” (al-fath), bukan penjajahan (al-isti’mar). Hukum itu (sunnatullah) berlaku untuk semua masyarakat, bangsa, atau negara mana pun.

Kedua, Islam mengurusi kepemimpinan dan kekuasaan. Karena itu Islam tidak menganut prinsip pemisahan antara urusan negara dan agama. Oleh sebab itu, Islam bertolak belakang dengan “ajaran” Sekularisme, yang menganut doktrin: Urusan politik, keduniaan diurusi oleh negara; sedang urusan kagamaan diserahkan kepada [ahli] Agama. Agama tidak boleh mencampuri urusan politik dan keduniaan, negara pun dilarang mengintervensi masalah [ajaran] Agama. Bagi Afghani, Islam bukanlah agama yang menganut prinsip pemisahan antara Agama dan Negara. Negara tanpa agama, buta moral; agama tanpa negara, lumpuh. Islam mengurusi masalah duniawi dan ukhrawi, kebahagian duniawi dan kebahagiaan ukhrawi.

Ketiga, Persaudaraan Islam (اخوة الاسلامية). Persaudaraan Islam atau Ukhwah Islamiyah, tidak mendasarkan diri kepada kebangsaan, nasionalisme atau ras, namun mendasarkan kepada Islam sebagai agama. Karena itu, persatuan Islam tidak boleh dipisah karena kebangsaan, nasionalisme, ras, kesukuan.

Melalui majalah “Al ‘Urwah al Wutsqa” (العروة الوثقى), Ridla mulai terbuka penglihatannya tentang kondisi Islam dan masyarakat muslim. Sikap anti duniawi, menjauh dari hingar-bingar kehidupan masyarakat, “taqarrub” kepada Allah, banyak melakukan dzikir, berkhalwat, dan lainnya, ternyata menjauhkan Islam dari wataknya yang menginginkan bangunan masyarakt yang kuat, merdeka, maju, dan menghadirkan peradaban modern yang egaliter, humanis, dan religius; melawan penindasan, keterbelakangan, dan penjajahan. Sikap “acuh-tak acuh” kepada masalah urusan duniawi, ternyata semakin membawa keterpurukan masyarakat Islam di bawah kolonialisme Barat.

Ridla berbalik arah, dari kehidupan sufistik kepada kehidupan keislaman yang dinamis, terbuka dan maju, sehingga Ridla tertarik kepada Afghani dan Abduh yang disebutnya sebagai Filosof Timur (Hakim al syarqiy), pemurni (mujaddid) dan pembaharu (mushlih) Islam. Ridla berkata, “Negeri Timur sedang sakit, perlu diobati agar sembuh, namun enggan meminum obat.” Karena itu, Rasyid Ridla ingin sekali bertemu dan berguru kepada mereka berdua, Afghani dan Abduh. Ide-ide brilian yang dipublikasikan dalam majalah al’Urwatul Wutsqa, begitu berkesan dalam dirinya dan menimbulkan keinginan kuat untuk bergabung dan berguru pada kedua tokoh itu.

Saat Afghani dan Abduh berpisah, Abduh kembali ke Mesir, sedang Afghani Tinggal di Turki; Ridla mengirim surat kepada Afghani untuk menggantikan posisi Abduh untuk menjadi penterjemah, penulis, dan menyebarkan ide-idenya. Saat itu Ridla masih belajar di Madrasah untuk mengambil “syahadah” dari gurunya, di Tripoli, Libanon. Namun ajal menentukan jalan lain, Afghani wafat. Niat untuk menggabungkan diri dengan al-Afghani di Istanbul tidak terwujud. Hingga akhirnya ada kesempatan untuk pergi ke Mesir dengan menerbitkan al-Manar besama Abduh.

Kesempatan tersebut datang, saat Abduh pertama kalinya ke Tripoli, Libanon, pada tahun 1885 M. untuk menemui temannya, Syaikh Abdullah al Barakah, yang mengajar di Madrasah al-Khanutiyah. Pada pertemuan ini, Ridla sempat bertanya tentang tafsir terbaik menurut Abduh. Syaikh Muhammad Abduh menjawab, “Tafsir al-Kasysyaf.” Ridla sempat menyela, yang menyebut Tafsir al-Zamakhsari sebagai tafsir Mu’tazilah. Kata Abduh, “Tafsir ini terbaik karena ketelitian redaksinya dan sastra yang diuraikannya.”

Pertemuan kedua terjadi saat Abduh ke Tripoli lagi pada tahun 1894 M., diusir dari Mesir, karena dianggap terlibat dalam Revolusi Urabi Basya. Pada kesempatan kedua ini, Ridla berkesempatan untuk berbicara banyak hal dengan Abduh (Tafsir al Manar 1: 7).

Pertemuan ketiga, ketika Ridla pergi ke Mesir untuk menemui gurunya, Syaikh Muhammad Abduh. Ridla pun mengusulkan kepada sang guru untuk menerbitkan sebuah majalah yang akan menyebarkan ide-ide dan pemikiran mereka. (Bersambung).

WhatsApp Image 2020-11-24 at 22.31.54
WhatsApp Image 2020-11-19 at 15.25.59
WhatsApp Image 2020-11-08 at 17.20.03

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed