oleh

*PERTANDINGAN SUDAH USAI*

NASIONAI. harianmerdekapost.com-Saatnya menjaga keteduhan, kedamaian dan persaudaraan. Saatnya melupakan benturan dan meredakan permusuhan.

Dalam suatu pertandingan terjadi benturan, saling jegal, saling tendang bahkan saling mencederai di lapangan adalah hal yang biasa dan wajar.

Tapi ketika pertandingan usai semua harus berjabat tangan dan berpelukan. Bersama meninggalkan lapangan. Kemudian membiarkan para juri, wasit dan pelaksana pertandingan memberikan penilaian. Tanpa harus diganggu dan ditekan apalagi dicurigai.

Siapa saja yg ingin meneruskan pertandingan di luar lapangan saat pertandingan usai, jelas mereka adalah pecundang.

Siapa saja yg mencaci, menista dan tidak percaya wasit dan pelaksana pertandingan, padahal dia mengikuti pertandingan tersebut hampir dipastikan mereka adalah licik.

Siapa saja yang berani mengambil keputusan sendiri mendahului keputusan wasit maka sesungguhnya dialah pengkhianat….!!!

Kecewa dalam pertandingan wajar, curiga pada wasit boleh, menjaga para supporter agar tetap semangat sampai pertandingan usai adalah perbuatan mulia.

Tapi bikin gaduh dengan mengorbankan persaudaraan dan keutuhan sesama anak bangsa demi kemenangan adalah suatu sikap nista.

Dalam konteks kebangsaan sikap seperti itu sama dengan mempersilahkan diri ditunggangi kelompok anti demokrasi menjalankan agendanya di negeri ini.

Dan ini berarti membuka pintu bagi kelompok anti Pancasila dan NKRI untuk menghancurkan negeri ini melalui kegaduhan yang mereka ciptakan secara terus-menerus.

Hanya orang-orang nista dan pengkhianat bangsa yang tega melakukan tindakan seperti ini.

Bay Dewa Aruna

NKRI CINTA DAMAI NKRI HARGA MATI
(HMP. RED)

Untitled-1
Untitled-1
WhatsApp Image 2020-10-12 at 21.14.59
WhatsApp Image 2020-10-12 at 21.14.59 (1)
WhatsApp Image 2020-10-13 at 14.18.12
WhatsApp Image 2020-09-30 at 06.08.24
WhatsApp Image 2020-09-28 at 08.08.0

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed