oleh

Penebangan Pohon Trembesi di Areal GOR Trisanja Slawi Bikin Geram Bupati Dan Sekda

banner 300250

banner 300250

Slawi-harianmerdekapost.com- Menindaklanjuti adanya laporan perihal penebangan Pohon Trembesi di areal halaman GOR (Gedung Olah Raga) Trisanja Slawi, Bupati Tegal, Umi Azizah pun segera bergegas menuju ke lokasi, Rabu (26/2) sore kemarin. Seketika itu Umi merasa geram saat melihat sebanyak sebelas batang Pohon Trembesi yang dipotong habis tanpa menyisakan sedikitpun batang pohon utamanya. Padahal pohon setinggi tiga hingga empat meteran. Batang pohon sudah rata dengan tanah.(27/02/2020)

Umi geram dan tidak mau menerima penjelasan tentang penebangan pohon tersebut dari Kepala UPTD GOR Trisanja Nur Dwi Rohadi.

Dihadapan Umi, Rohadi mengatakan jika pemangkasan tersebut dilakukan untuk alasan keamanan, mencegah pohon tumbang karena keropos, disamping rencananya yang akan membuat taman edukasi.

Mendengar jawaban Rohadi, Umi pun mengecek sejumlah batang pohon yang sebagian masih berserakan di lokasi dan menyimpulkan jika ini bukanlah pemangkasan, melainkan penggundulan pohon. “Gerutu Umi.

“Tidak mungkin pemangkasan seperti ini. Ini lebih mirip penggundulan pohon sehingga menghilangkan fungsi utamanya sebagai peneduh”, katanya dihadapan Rohadi.

Umi menjelaskan jika Pohon Trembesi di GOR Trisanja yang ditanam sejak puluhan tahun lalu berfungsi sebagai peneduh sekaligus pendukung fungsi Ruang Terbuka Hijau (RTH). “Apalagi kawasan GOR ini adalah titik utama kita untuk meraih point tinggi saat penilaian Adipura, lha kok berani-beraninya ada yang memangkas seperti ini tanpa izin”, ujarnya kesal.

Tak berselang lama, usai Umi meninggalkan tempat, Sekretaris Daerah Kabupaten Tegal Widodo Joko Mulyono pun datang dan kaget dengan pemotongan Pohon Trembesi ini.

“Saya Hanya memberikan Ijin penebangan pohon yang berada di dalam stadion untuk keperluan penilaian kelayakan tempat pertandingan sepak bola Liga 2, malah ini yang di depan dan di samping kolam renang ikut-ikutan dipotong, ditebang. Ini sudah keterlaluan”, kata Widodo dengan nada tinggi.

Widodo pun menanyakan soal aturan pengelolaan aset yang kemudian diakui Rohadi jika dirinya kurang begitu memahami. “Memotong pohon seperti ini ada aturannya, apalagi batang yang dipotong ada nilai ekonominya. Ada bagian aset yang bisa menghitung, bukan terus kayu hasil potongan ini yang digunakan sebagai bayarannya”, tegas Widodo.

Atas insiden ini, Sekda pun minta agar sisa kayu batang pohon yang ditebang tidak diambil, tapi dikumpulkan di satu tempat untuk diperiksa lebih lanjut. “Saya minta potongan kayu ini dirapikan, ditumpuk di tepi dan saudara buat laporannya ke saya”, katanya seraya meninggalkan tempat.

Sebelumnya, Rohadi mengaku jika untuk memangkas pohon Trembesi ini diperlukan biaya Rp6 juta dan kemudian ada pihak yang sanggup tanpa harus dibayar. Perjanjiannya, kata Rohadi, hasil pemangkasan inilah sebagai pengganti bayarannya. Rencananya, ranting dan batang pohon tersebut akan digunakan sebagai kayu bakar. Tercatat keseluruhan sudah ada delapan belas pohon yang dipotong tanpa melalui prosedur perizinan yang benar.Editor red (humas/iman)