Pemkab Trenggalek Mulai Tutup Sejumlah Akses Masuk ke Daerahnya

-Berita-119 Dilihat
banner 300250

banner 300250

Pemkab Trenggalek,harianmerdekapost.com-mulai tutup sejumlah akses masuk menuju daerahnya . Penutupan akses masuk ini, menjadi bagian dari pembatasan wilayah yang dilakukan oleh Pemkab Trenggalek untuk mencegah penyebaran Corona Virus Desease 2019 (Covid 19) yang kian mewabah.

Semua akses masuk ditutup menyisakan 3 akses saja, dari arah Tulungagung, Ponorogo dan Pacitan. Pemerintah Trenggalek juga menyediakan Checkpoint di tiga jalur tersebut dengan tujuan mengidentifikasian semua orang yang masuk ke Trenggalek tanpa kecuali.

Senin (30/3/2020), Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin bersama dengan Forkopimda meninjau langsung penutupan akses masuk di Desa Malasan Durenan. Jalur ini menjadi salah satu jalur alternatif masuk ke Trenggalek melalui Kabupaten Tulungagung.

Rencananya akses jalan ini akan ditutup semi permanen menggunakan drum yang kemudian dikeraskan menggunakan beton dan bronjong kawat yang akan diisi batu belah agar tidak mudah dipinsahkan.

Bupati Trenggalek saat dikonfirmasi awak media menuturkan, “kurang lebih ada 40 titik jalur disekitar perbatasan Ponorogo, Tulungagung maupun Pacitan yang ditutup,” ungkapnya.

“Kita hanya buka 3 akses besar yang dilengkapi dengan checkpoint. Sehingga harapan masyarakat, semua orang yang masuk ke Trenggalek ini sudah ter-odservasi dan teridentifikasi dulu baik data kependudukannya maupun status kesehatannya,” lanjut pria yang akrab disapa Gus Ipin ini.

Pria yang kini berusia 29 tahun ini menambahkan penutupan akses masuk ini berlaku 24 jam, sampai dengan status darurat wabah Corona ini dinyatakan selesai oleh Pemerintah Pusat.

Ini tahap awal dan kita akan nelakukan pengerasan di tubuh tong-tong ini, kemudian bronjongnya ini akan kita beri pemberat batu belah. Ini masih tahap awal karena memang kebijakannya masih kita ambil semalam.

Sekarang kita bergerak cepat, yang penting semua sudah tertutup dulu dan besok kita lakukan pengerasan, sehingga tidak ada yang bisa memindahkan atau membuka akses masuk ini.

Kalau ditanya seberapa efektif untuk melakukan trashing terhadap orang-orang yang dianggap beresiko, kalau tidak dilakukan seperti ini, orang bisa masuk ke segala pintu kita tidak akan mampu melakukan trashing. Dengan begitu tentunya kita tidak bisa mendeteksi dimana orang-orang yang sebenarnya orang dalam resiko (ODR), orang dalam pengawasan (ODP) yang bisa membahayakan masyarakat, tegas suami Novita Hardini ini.

Dengan begini kita bisa mendeteksi dan bisa melakukan langkah mitigasi pencegahan percepatan penyebaran Covid 19 ini. Kita lihat tadi di lokasi checkpoint ada yang diberi gelang merah, itu akan mempermudah pihak puskesmas mentrashing sampai dengan ketingkat RT maupun RW, tutup Nur Arifin.

Kapolres Trenggalek AKBP Jean Calvijn Simanjuntak menambahkan, “di Trenggalek kegiatannya berlangsung dan tidak ada status lockdown. Namun statusnya waspada darurat wabah Corona,” imbuhnya.

“Langkah-langkah preentif edukasi sosialisasi, ajakan sudah kita lakukan, namun sampai saat ini kita lihat pada umumnya kita sudah melaksanakan kebijakan pemerintah untuk tinggal dirumah patut kita apresiasi dan mohon diindahkan masyarakat.”

Sedangkan terkait pembatasan wilayah memang selayaknya dilakukan. Karena bila tidak diawasi maka akan crowded dan bisa berbahaya.

Kapolres Trenggalek meminta dukungan masyarakat terhadap langkah yang telah diambil oleh pemerintah untuk mencegah penyebaran Corona sekaligus meminta masyarakat untuk mematuhi himbauan ini sehingga wabah ini di Trenggalek bisa dicegah. (Umar)

banner 300250