oleh

Nabi dan Harapan Hidup Mulia

Harianmerdekapost.com-Dialah yang mengutus seorang rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata (QS. Al_Jumu’ah : 2)

Ayat ini memberi penegasan dua hal. Pertama, rasul tidak bisa membaca dan menulis. Kedua, rasul menunjukkan jalan hidup Mulia. Pembahasan kali ini menekankan bahwa misi seorang seorang rasul sangat besar dan agung. Dikatakan besar karena apa yang disampaikan merupakan perkara besar, bukan sepele. Perkara yang disampaikan bukan perkara sepele atau kecil, tetapi perkara yang memerlukan perhatian besar. Dikatakan agung karena apa yang disampaikan rasul merupakan berita-berita berharga yang akan membuat seorang hamba hidupnya terhormat atau terhina di dunia dan akherat.

Rasul : Tidak Bisa Membaca dan Menulis

Allah sengaja mengutus seorang rasul yang tidak bisa membaca dan menulis. Apakah buta hurufnya seorang rasul menunjukkan dirinya hina dan bodoh ? Ternyata tidak. Rasul memiliki akhlak yang mulia dan perilaku yang agung. Kaumnya mengakui keutamaan akhlak rasul itu. Bahkan pengakuan jujur itu tersebar secara luas di masyarakatnya. Namun karena apa yang disampaikan bertentangan dengan tradisi yang selama ini melekat kuat di tengah masyarakat, maka perintah rasul itu diabaikan, dan bahkan ditentang. Kaumnya justru menuduhnya berbohong dan tidak percaya bahwa yang disampaikan rasul itu tidak dari penguasa langit, tetapi buatannya sendiri. Mereka justru menganggap apa yang disampaikan rasul itu karangan dan hasil mimpi-mimpi kosong yang tidak masuk akal.

Tidak mampu baca-tulis tidak lain sebagai cara Allah untuk menunjukkan bahwa apa yang disampaikan rasul itu merupakan firman-Nya, bukan hasil karya atau karangan rasul itu. Berbeda dengan manusia zaman ini, orang yang buta huruf akan membuatnya hina dan tersisih di tengah masyarakat. Orang buta huruf identik dengan kebodohan dan keterbelakangan, yang akan menyisihkan siapapun yang ada dalam dirinya.

Allah mengutus seorang yang buta huruf bukan hanya untuk menguatkan argumen bahwa apa yang disampaikan seorang rasul adalah kebenaran dari langit, tetapi menunjukkan bahwa wakyu itu keakuratannya sangat terjaga dan tak ada campur tangan pihak lain. Allah pun menantang siapapun untuk membuat ayat atau surat semisal untuk menandinginya. Namun Al-Qur’an hingga detik ini tidak pernah ada pihak-pihak yang bisa menandingi dan membuatnya. Alih-alih membuat al-Qur’an mereka justru berbalik mengajak rasul untuk membuangnya dan menggantikan dengan yang lain. Hal ini karena tidak mampu membuat yang semisal dengan Al-Qur’an.

Rasul Menunjukkan Jalan Hidup Mulia

Semua rasul memiliki tugas yang sama yakni menunjukkan jalan keselamatan, dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meniti jalan itu. Rasul itu berjanji kepada siapapun yang mengikuti jalan ini, akan membuatnya mulia. Jalan kemuliaan itu dimulai dengan menanamkan pondasi iman yang kuat tentang adanya Allah dan mengajaknya untuk melakukan penyembahan kepada-Nya. Rasul selalu mengajak kepada umatnya untuk mengenal Allah mulai dari sifat-sifat hingga kebesaran-Nya, serta memerintahkan untuk menyembah-Nya. Ajakan untuk menyembah hanya kepada-Nya inilah yang menjadi akar perseteruan dan konflik berkepanjangan antara rasul dan kaumnya.

Orang-orang kafir mengakui adanya Allah tetapi menolak untuk menyembah-Nya. Mereka justru bersekutu dengan sesembahan lain, dan berpaling dari Allah. Mereka bersikukuh menyembah kepada tuhan-tuhan lain yang dianggapnya memberikan ketenangan dan keselamatan. Mereka menganggap bahwa selama ini hidupnya nyaman dan kehidupannya berjalan normal karena dengan tuhan-tuhan yang banyak itu. Sementara apa yang disampaikan rasul, dengan mentauhidkan-Nya, belum tentu menjamin kenyamanan dan ketenteraman hidup. Sehingga mereka berupaya sekuat tenaga untuk menentangnya.

Nabi memiliki tugas menunjukkan jalan yang lurus dan menjamin keselamatan, dan pada saat yang sama meluruskan jalan kaumnya yang bengkok. Namun apa yang disampaikan rasul itu dipandang sebagai angan-angan kosong dan akan mendatangkan bencana atau musibah. Kalaupun Allah memperkuat kebenaran rasul-Nya dengan berbagai bukti kebenaran, maka kaumnya mendustakannya, dan bersikukuh kepercayaannya benar. Mereka pun dengan sekuat tenaga menolak bukti-bukti kebenaran yang ditunjukkan oleh rasul itu.

Apa yang disampaikan rasul itu semata-mata mengajak manusia untuk mengokohkan keimanan dengan mengenal Allah dengan benar, serta menjauhkan penyembahan kepada selain-Nya. Ketika seorang hamba bersih hatinya dari syirik, maka dia akan berhak bertemu Allah dan amalan-amalannya akan menjadi saksi tentang pengakuan adanya pengagungan kepada Allah.

Sebaliknya manusia yang tidak mengagungkan Allah semata dan justru berpaling memperkokoh keyakinannya dengan membuat persekutuan kepada selain Allah, maka hidupnya akan terhina dan di akherat akan menerima siksa. Apalagi mereka bersikukuh untuk berada di jalan yang bengkok dan berpegang teguh kepadanya, maka dia akan hidup terlunta-lunta di dunia dan terhina ketika di akherat.

Disinilah pentingnya mengenal Allah, dan tak mempersekutukannya. Kemudian mengikuti petunjuk yang disampaikan oleh rasul, sehingga terbimbing untuk beramal kebaikan. Hal inilah yang membuat dirinya bisa bertemu Allah ketika di akherat dan hidupnya menjadi mulia. Hal ini sebagaimana firman-Nya :

Katakanlah (Muhammad) Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka barangsiapa mengharap pertmuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia memperesekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya (QS. Al-Kahfi : 110)
Surabaya, 29 Juni 2021

Editor: Sudono Syueb

banner 300250

banner 300250

No Slide Found In Slider.

News Feed