oleh

Kyai Kholil, Sahabat Kyai Hasyim Muzadi Saat di Gontor Berpulang ke Rahmatullah Laporan: Tom Mas’udi & Sudono S

Surabaya,harianmerdekapost.com-Di saat ummat Islam dan Bangsa Indonesia memperingati peristiwa Gerakan 30 September atau lebih dikenal dengan G-30S/ PKI yang menewaskan banyak Ulama’ dan Kyai, KH. Muhammad Kholil bin KH. Ali, sahabat KH. Hasyim Muzadi saat di Pondok Pesantren Gontor Ponorogo berpulang menemui cinta abadinya, Sang Khaliq (Selasa, 29/2020).

“Setelah dirawat medis selama sembilan hari, Abah berpulang pada jam 04.50 WIB. Waktu itu saudara-saudara laki-laki saya, serta suami saya Anwar Syahid Hasbullah baru menyelesaikan dzikir bakda shalat shubuh. Saya menunggui Abah. sambil membaca Qur’an disampingnya, dan ketika membaca Surat Yasin tepat pada ayat “salaamun qaulan min rabbir rahiim” saya dapati nadi Beliau tidak lagi berdenyut”, kata Farida Ratnawati puteri pertama almarhum.

Fuad Abdullah putera kedua juga memiliki kesaksian tentang Abahnya. “Saya menemani Abah di rumah. Saat itu Beliau terbaring lemah di tempat tidur sambil menyebut Allah, Allah, Allah dan Laa ilaaha illallah ( tiada Tuhan selain Allah, red.) berulang-ulang. Setelah Kalimah Thayyibah ‘Laa ilaaha illallah’ itu, Beliau tidak sadarkan diri lalu dirawat medis sampai Beliau wafat”, ujar Fuad.

Lahir delapan puluh tahun lalu tepatnya pada 15 Juni 1940 di desa Duwet, Wates, Kediri, Kyai Kholil adalah alumnus Pondok Gontor Ponorogo, dengan Surat Keterangan Lulus No. II/328/B-21/1961 (STB. No. 1961) bertanda tangan KH. Imam Zarkasji, Direktur Kulliyyatul Mu’allimin Al Islamiyah (KMI) Gontor. Kyai Kholil satu kelas dengan tokoh Cendekiawan Muslim Nurcholis Madjid. Saat menjadi santri Gontor Muhammad Kholil muda adalah Ketua Pelajar Islam Indonesia (PII) Komisariat Gontor, dengan Hasyim Muzadi sebagai Sekretaris Umum. “Begitu dekatnya persahabatan Beliau berdua, Kyai Hasyim menyempatkan diri hadir pada saat pernikahan Kyai Kholil dengan Hj. Siti Robi’ah binti KH. Bahri Asyraf. Kyai Hasyim bahkan menginap di rumah KH ‘Ali, orang tua Kyai Kholil di Duwet” ungkap KH. Sudarno Hadi, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Jawa Timur pada saat memberikan kata sambutan sebelum menjadi Imam shalat jenazah Kyai Kholil di Masjid Jami’ Atthayyib desa Tambakrejo, Gurah, Kediri.

Tentang kedekatan Kyai Kholil dan Kyai Hasyim, ada cerita kecil yang dituturkan oleh KH. Qusyairi Bahri, mantan Wakil Syuriah PCNU Kediri. “Waktu Kyai Hasyim Muzadi masih menjadi Ketua PWNU Jatim dan melakukan kunjungan ke Kediri, Beliau bilang bahwa Kyai Kholil itu teman sebantal waktu mondok di Gontor. Setelah peristiwa Kanigoro, Kyai Kholil dan saya keliling naik pickup dengan bendera GP Ansor keliling Kediri sebagai *psi war* terhadap orang-orang PKI yang menyerang ummat Islam”, kenang Kyai Qusyairi.

Bersama Kyai Misbah, dan Dewan Dakwah

“Pernah suatu ketika ada acara Dewan Dakwah di masjid ini (Atthayyib, red.) yang dihadiri oleh Kyai Misbah, Ketua Dewan Dakwah Jatim, Kyai Kholil dengan suka cita menyambut Beliau dan mempersilahkan Kyai Misbah beristirahat barang sejenak di rumahnya sebelum melanjutkan safari dakwah di Kediri”, sambung KH Sudarno Hadi.

“Kyai Kholil adalah orang tua kami, guru kami baik di PII maupun Dewan Dakwah. Kami kenal baik dengan putera-puteri Beliau, Mbak Farida Ratnawati, Mas Ahmad Busro, Mas Fuad Abdullah, saudara Tom Mas’udi yang saat ini adalah salah seorang Wakil Sekretaris Dewan Dakwah Jatim, Mbak Aya Andawiyah serta Mbak Ulfatussaadah. Kyai Kholil selalu memberi motivasi dan menunjukkan dimana tempat teman-teman dan keluarga seperjuangan dalam dakwah Islam. Beliau berpesan bahwa dakwah itu tidak ada akhirnya _ilaa yaumil qiyaamah_ “, imbuh KH. Sudarno Hadi.

Dakwah harus terus berlanjut. Dengan prinsip itu pula Kyai Kholil tidak lupa mengirimkan para pemuda sebagai penerus estafet dakwah untuk memperdalam ilmu agama di pesantren. Salah satu pemuda itu adalah Ustadz M. Azhar Ridlwan, Ketua Yayasan Masjid Manarul Islam Bangil.

Ahmad Busro, putera ketiga almarhum menambahkan kenangan tentang Kyai Kholil bahwa, setelah lulus dari Gontor, Abahnya mendapat tugas pengabdian di Nusa Tenggara Barat. “Abah pernah bercerita bahwa Ibunda dari Tuan Guru Bajang, mantan Gubernur NTB, ketika masih remaja adalah salah satu santriwati yang diajarnya”, tutur Ahmad Busro.

Di antara umat yang bertakziah ada KH. Khusnul Aqib Supandi (mantan Sekretaris pribadi Kyai Misbah, Pimpinan Ponpes Raudlatul ‘Ilmiyah Kertosono Nganjuk ( KH Ali Mansur Kastam, Ustadz Syaifullah ‘Ali, Ustadz Sudarji), DR. Ahwan Fanani dari UIN Wali Songo Semarang serta DR. Umar Faruq (Universitas Islam Zainul Hasan Genggong Probolinggo).

Ada yang menjadi penyejuk hati Kyai Kholil, diantara enam orang anak, delapan belas cucu dan tiga cicitnya empat cucunya sudah menghafal 30 juz Alqur’an, Aufa, Ibrahim, Ali dan Nadya yang baru berusia sepuluh tahun.

Dari masjid Jami’ jenazah Kyai Kholil dishalatkan lagi di kediaman jalan Nangka 1, desa Tambakrejo Gurah, Kediri sebelum dimakamkan pada jam 09.30 WIB hari itu juga di Makam Tambakrejo. ™

Untitled-1
Untitled-1
WhatsApp Image 2020-10-12 at 21.14.59
WhatsApp Image 2020-10-12 at 21.14.59 (1)
WhatsApp Image 2020-10-13 at 14.18.12
WhatsApp Image 2020-09-30 at 06.08.24
WhatsApp Image 2020-09-28 at 08.08.0

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed