Kisah KH. Masjkur Hasjim Menurut Keluarga

banner 300250

banner 300250

Surabaya,harianmerdekapost.com – Sosok senior NU yang pernah menjabat komandan Banser Jatim yang juga mantan ketua GP Anshor Surabaya, KH Masjkur Hasjim, telah berpulang pada Kamis pagi 02/04/2020 di kediamannya, Jemurwonosari.

“Sebenarnya usia beliau akan menginjak 71 tahun pada 14 April mendatang, tapi sebelum ulang tahun, Allah berkehendak lain”, ujar Lia Istifhama, anak keenam dari pasangan KH Masjkur Hasjim dan Hj. Aisyah. (03/04/20)

“Beliau sekitar Minggu lalu sempat bertanya, tahun ini Hijriyah yang ke berapa? Ternyata mungkin itu salah satu firasat, beliau berpulang pada 2 Sya’ban 1441 H.

Sedangkan istri almarhum yang merupakan kakak kandung Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, menceritakan kebiasaan sang Bengawan politik tersebut sebelum wafat.

“Akhir-akhir ini selalu ke makam setiap hari, ke makam anak kami yang sulung, H. Fery Azhar. Pernah juga bilang ke saya, ayo meninggal bareng. Saya spontan bilang, ya jangan, kasihan anak dan putu (cucu)”, katanya. Perempuan berusia 65 tahun tersebut juga menjelaskan bahwa sebelum berpulang, yaitu sore hari, mereka berdua sempat pergi ke pasar.

“Beliau memang suka ajak jalan ke pasar, ke rumah anak, dan sebagainya. Tapi yang kemarin itu keluar sebentar saja dan cepet pulang, sesampainya di rumah langsung memanggil kedua cucunya. Semuanya masih seperti biasa dan setelah menjelang tengah malam sakit perut, biasanya seperti itu masuk angin saja dan sembuh. Tapi yang kemarin itu tidak”, kisahnya.

Sedangkan Khofifah selaku adik ipar, menjelaskan pentingnya peran KH. Masjkur Hasyim selama hidupnya.

“Beliau yang mengajarkan adalah guru organisasi saya. Mengajak saya berorganisasi, berpolitik, dan sering sekali berdiskusi sampai jam dua dini hari. Almarhum juga yang mengantarkan saya sebagai ketua IPPNU ketika kelas 3 SMA, Ketua Korpri PMII ketika semester lima, dan banyak proses, terutama politik yang beliau ada didalamnya. Kakak saya ini juga yang menganjurkan saya untuk masuk jurusan Fisip Unair dan selalu menjadikan saya substitusi setiap ada kader Gerakan Pemuda Kakbah yang tidak hadir ketika ada acara tertentu. Memang semua orang bisa berproses, tergantung bagaimana orang menyikapi sosok sebagai mediasinya dalam berproses”, terangnya.

Lia Istifhama yang juga terlihat hadir dalam pemakaman yang dihadiri oleh Wagub Emil Dardak tersebut, memberikan harapan dari ayahandanya.

“Beliau sangat kagum dengan ibu gubernur. Sering sekali memuji-muji kalau dirumah, sebagai mantan ketua IPPNU Surabaya termuda, pintar dan lantang berpidato, dan sebagainya. Beliau memang kagum karena harus diakui, jarang sekali figur perempuan sehebat ibu Gubernur. Kalau terkait proses saya, sewaktu saya bilang: Ayah, pilkada ditunda, gimana menurut ayah? Beliau bilang malah bagus, semakin bisa memperkuat jaringan. Beliau tidak mengukur sesuatu hal secara materi, tapi niat proses. Dan beliau selalu berpesan, jaga kesehatan ibu saya, juga sempatkan sowan ke teman-teman beliau yang kebetulan memang banyak yang saya kenal”, pungkas Lia. (AD1)