oleh

“ *Hai Benang Layang- Layang, Kamu Saya Putus Tiga Kali….!”* Oleh : Dr. Amam Fakhrur, SH,MH. Alumni Ponpes YTP, Kertosono Editor: Sudono Syueb

Pontianak,harianmerdekapost.com-Beberapa waktu yang lalu seorang lelaki datang kepada saya, ia menanyakan, “ Pak.., saya telah mentalak isteri saya dengan talak tiga. Apakah saya masih bisa rujuk kembali kepada dia? Tanya lelaki tersebut dengan nada serius .

“Berapa kali kamu mentalak isterimu ?”,tanyaku balik.

“Ya sekali itu Pak,saya lakukan di rumah, cuman meskipun sekali tetapi saya mentalaknya dengan menyebut “talak tiga ”. Jawab lelaki tersebut.

“Isteri saya telah saya pulangkan ke rumah orang tuanya,namun sekarang saya telah berubah fikiran, saya ingin rujuk dengannya,bagaimana hukum talak yang telah saya jatuhkan tersebut”. Ia mengulangi pertanyaannya.

Menjatuhkan talak oleh suami kepada isterinya sebagaimana yang dilakukan lelaki tersebut di atas adalah banyak terjadi di masyarakat. Entah saking ruwetnya suatu rumah tangga, emosi yang meninggi atau ada sebab lain.

Pengucapan talak dengan kalimat “talak tiga” cermin tindakan yang tak terkendali seorang suami kepada isterinya. Ia menumpahkan emosi bahwa benar-benar ia ingin menyudahi rumah tangganya dan tak ingin rujuk lagi dengan mengusung kalimat “talak tiga”. Padahal belum tentu rumah tangganya benar-benar telah centang perentang dan silang sengkarut.

Lantas saat emosi mereda dan dengan mempertimbangkan berbagai hal, pikiran menjadi berubah ,ada keinginan untuk rujuk. Sementara ia pernah mendapatkan penjelasan bahwa “talak tiga” membawa konsekwensi ia tidak dapat rujuk, kecuali setelah isterinya dinikahi lelaki lain terlebih dahulu. Ia mengalami dilema antara keinginan rujuk dan dan ketentuan fiqh yang ia ketahui.

Selain soal kalimat “talak tiga” dalam satu peristiwa talak, tak sedikit masyarakat yang melakukan perceraian yang tidak disaksikan oleh hakim, tidak melalui lembaga resmi Pengadilan Agama. Agaknya lelaki yang datang kepada saya tersebut di atas adalah termasuk yang beranggapan bahwa soal perceraian adalah otoritasnya, keabsahannya tak harus melibatkan pihak lain.

Perceraian yang tidak dilakukan di depan sidang Pengadilan Agama, akan menimbulkan ketidaktertiban dan tidak ada kepastian hukum. Potensi terjadi anarki dan kesewenang-wenangan.

Hukum yang berlaku di negara ini, agar berkekuatan hukum, bagi orang Islam perceraian harus dilakukan melalui persidangan di Pengadilan Agama.

Bukti telah terjadi perceraian adalah adanya akta cerai yang diterbitkan Pengadilan Agama,demikian hukum yang berlaku. Seorang lelaki yang telah melakukan perceraian tidak melalui sidang pengadilan,perceraiannya tak berkonsekwensi hukum. Bila ia bermaksud menikah lagi secara resmi dengan wanita lain, tidak akan diproses oleh Kantor Urusan Agama.Ia dianggap masih terikat dalam suatu perkawinan, belum sebagai duda menurut hukum.

Mengenai menjatuhkan talak dengan kalimat “talak tiga”, dalam satu peristiwa memang ada beragam pendapat ulamak. Imam empat madzhab menghukumi telah jatuh talak tiga. Konsekwensinya, suami tidak dapat rujuk,sebelum isterinya dinikahi lelaki lain. Ada juga pendapat yang membedakan, bila isterinya telah digauli,maka jatuh talak tiga,namun bila isterinya belum digauli,jatuh talak satu. Ada juga pendapat yang menyatakan talak tersebut tidak sah,sehingga tidak jatuh talak, karena talak tersebut adalah diharamkan. Dan pendapat lain menyatakan talak seperti itu hanya jatuh talak satu.

Bagaimana jawaban saya atas pertanyaan lelaki yang datang kepada saya sebagaimana yang saya ceriterakan di atas ? Ketika itu saya menjawab secara sederhana, _ala qudroti uqulihi_ (menurut pola pikirnya) saja .Saya sadar talak kategori “liar” seperti itu tak berkekuatan dan tak berkonsekwensi hukum.Saya fokus kepada soal “talak tiga” dalam satu peristiwa, seperti yang telah ia lakukan, dan tak terkait dengan institusi lembaga peradilan.

Saat itu saya menjawab, “Seperti saat kamu main layang-layang… “. “Bagaimana…..?”, belum selesai saya menjawab ia menyergah. Lantas saya meneruskan, “ Jika benang itu kamu putus sekali, meskipun kamu berucap hai benang kamu saya putus tiga kali, maka benang itu hanya putus sekali”. “Sama saja meskipun kamu bilang talak tiga, tetapi karena peristiwa talaknya satu kali,maka hal itu berhukum talak satu”,saya melanjutkan jawaban.

Setelah saya nasehati ia agar tidak “main-main” lagi dengan talak dan saya beri informasi secukupnya tentang Peradilan Agama, ia segera pamit. Mungkin ia segera jemput isterinya .Saya hanya berdo’a semoga isterinya masih bersedia untuk diajak rujuk. _Wallahu a’lam._( Pontianak,16/10/2020.)

Untitled-1
Untitled-1
WhatsApp Image 2020-10-12 at 21.14.59
WhatsApp Image 2020-10-12 at 21.14.59 (1)
WhatsApp Image 2020-10-13 at 14.18.12
WhatsApp Image 2020-09-30 at 06.08.24
WhatsApp Image 2020-09-28 at 08.08.0

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed