oleh

DULU, PENJAJAH TAKUT DENGAN UNIVERSITAS ISLAM

Oleh: Dr. Adian Husaini
Ketua Umum DDII Pusat

Harianmerdekapost.com-Ketika Raja Solo, Sunan Pakubuwono X (memerintah tahun 1893-1939) mendirikan Madrasah Mambaul ‘Ulum tahun 1905, muncul reaksi dari penjajah Belanda. Madrasah itu dianggap sebagai satu Perguruan Tinggi (Universitas) yang dikhawatirkan akan melahirkan orang-orang cerdas dan membahayakan keberlangsungan penjajahan di Indonesia.

Dalam makalahnya berjudul “Madrasah Mambaul ‘Ulum Surakarta dan Kiprahnya dalam Membangun Kesadaran Kebangsaan”, Ratih Lutfita Ningtyas dari pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada, mencatat bahwa Madrasah Mambaul ‘Ulum menuai banyak tanggapan dan mendapat perhatian dari pemerintah kolonial dan pers Belanda.

Dalam sebuah tulisan berjudul “Een Muhammaedaansch Universiteit op Surakarta” disebutkan bahwa Madrasah Mambaul ‘Ulum merupakan lembaga pendidikan Islam yang setara dengan Perguruan Tinggi. Karena itu, anggota parlemen Hindia Belanda menuntut untuk dilakukan penyelidikan terhadap keberadaan Madrasah Mambaul ‘Ulum.

Madrasah itu dikhawatirkan akan berdampak pada pencerdasan masyarakat pribumi yang dididik di Perguruan Tinggi, sehingga akan mengancam eksistensi pemerintah kolonial Hindia Belanda. Setelah diteliti, materi yang diajarkan di Madrasah Mambaul ‘Ulum dinyatakan tidak ada yang bertentangan dengan aturan kolonial, sehingga Madrasah ini dibiarkan berjalan meskipun tetap dalam pengawasan ketat pemerintah kolonial. (Lihat, buku Kapita Selekta (Pendidikan) Sejarah Indonesia, jilid 4, Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2017).

Dalam disertasinya di Universitas Ibn Khaldun Bogor tentang Madrasah Mambaul ‘Ulum, Dr. Mulyanto mencatat, bahwa pendirian Mambaul ‘Ulum merupakan respon terhadap kebijakan pendidikan pemerintah kolonial yang diskriminatif. Ketika itu penjajah mendirikan sekolah-sekolah yang dikhususkan untuk anak-anak Belanda, anak-anak Timur Asing dan anak bumi putra keturunan ningrat. Sementara anak-anak pribumi rendahan sangat jarang mendapatkan pendidikan yang layak. Kesenjangan ini nampak terasa sampai pada awal abad ke 20. Selain itu, pada masa Kolonial Belanda, pendidikan menjadi ladang subur untuk menyebarkan misi Kristen di wilayah jajahan.
Keterlibatan misi Kristen dalam dunia pendidikan sudah ada sejak zaman VOC pada abad ke-17 dan 18. Gereja Kristen Belanda sudah terlibat aktif dalam penyediaan lembaga pendidikan bagi orang-orang lokal (Inlands Onderwijs). Pada tahun 1900-an jumlah sekolah dari berbagai tingkatan yang diprakarsai oleh misi Kristen sebanyak 541 sekolah, tersebar di berbagai daerah.
Diantara latar belakang berdirinya Madrasah Mambaul ‘Ulum adalah kepedulian Pakubuwana X yang tidak senang dengan maraknya sekolah-sekolah Zending di wilayah Surakarta. Jadi, pendirian Mambaul Ulum juga sebagai upaya untuk mengantisipasi perkembangan agama Kristen di wilayah Kasunanan.
Madrasah Mambaul Ulum merupakan pendidikan Islam pertama yang semula dari lingkup pesantren beralih ke madrasah. Madrasah ini juga menyiapkan sumber daya manusia untuk tenaga pejabat agama yang ahli di bidangnya. Selain itu, Mambaul Ulum dianggap sebagai kritik simbolik Pakubuwana X terhadap pemikiran Snouck Hurgronje yang menyarankan pemerintah Kolonial Belanda untuk melakukan pengawasan secara ketat terhadap para pemuka agama.
Selain mendirikan Madrasah Mambaul Ulum, Pakubuwana X juga menghidupkan kembali Pesantren Jamsaren setelah lebih 50 tahun berhenti disebabkan banyak guru dan muridnya melarikan diri karena terlibat dalam perang Diponegoro.
Menurut Dr. Mulyanto, Mambaul ‘Ulum berbeda dengan sistem pesantren di Indonesia saat itu. Dunia pesantren dikenal dengan elemen-elemen pokok dari suatu pesantren yaitu; pondok, masjid, pengajian kitab-kitab klasik, santri dan kyai. Pada sistem madrasah tidak mesti ada pondok, masjid, dan pengajian kitab-kitab klasik. Elemen-elemen yang diutamakan di madrasah adalah adanya lokal tempat belajar, guru, siswa, dan rencana pembelajaran serta adanya pimpinan.
Karel A. Steenbrink menyebut Madrasah Mambaul ‘Ulum sebagai pelopor pembaharuan pendidikan Islam, terutama jika dilihat dari waktu berdirinya yang lebih awal dari madrasah-madrasah yang pada pada awal abad ke 20 dan materi pelajaran yang diajarkan. Madrasah Mambaul Ulum telah mengambil tempat paling depan dalam menampilkan respon pesantren terhadap eskpansi pendidikan Belanda.

Setelah Madrasah Mambaul ‘Ulum berdiri, tahun-tahun berikutnya berdiri banyak lembaga pendidikan Islam bercorak klasikal, seperti Mambaul ‘Ulum. Bisa disebut sejumlah contoh, misalnya Muhammadiyah berdiri tahun 1912, Madrasah al-Irsyad al-Islamiyah di Jakarta berdiri tahun 1913 dan di Surabaya tahun 1914, dan sebagainya. Bahkan, tahun 1922 berdiri juga Perguruan Taman Siswa yang juga dimaksudkan oleh Ki Hadjar Dewantara untuk melawan model sekolah kolonial.

Kisah pendirian Madrasah Mambaul ‘Ulum oleh Pakubuwana X patut disimak dengan cermat. Madrasah ini berhasil melahirkan banyak ulama terkenal dan juga guru-guru serta para penghulu di Surakarta dan sekitarnya. Inilah salah satu bentuk perlawanan terhadap penjajah yang sangat cerdik.
Pakubuwono X sadar benar, bahwa perlawanan secara militer sangatlah berat dalam menghadapi kekuatan tentara penjajah dan kroni-kroninya. Beberapa kali penjajah Belanda dilawan dengan peperangan. Yang berat saja bukan saja tentara Belanda dengan persenjataan yang lebih modern, tetapi juga para pejuang itu harus berhadapan dengan sesama orang Indonesia yang memilih berpihak kepada Belanda, memerangi saudaranya sendiri.
Kisah Pengeran Diponegoro menjadi pelajaran berharga. Diponegoro harus berperang dengan sesama keluarga dan bangsanya sendiri. Ia kemudian dikhianati dan ditangkap. Sebelum itu, satu persatu para pendukungnya dibujuk oleh saudara-saudara mereka untuk menghentikan perang melawan penjajah. Banyak alasan diberikan.
Di masa kini, kaum muslim perlu belajar dari cara Pakubuwono X dalam menghadapi kekuatan penjajah, yang menggunakan berbagai cara untuk melemahkan kekuatan para pejuang dan melestarikan jajahannya. Penjajah juga melakukan proses penanaman nilai-nilai sekuler Barat dan gerakan misi, disamping tentu saja mengeruk keuntungan ekonomi.

Pendirian Madrasah Mambaul ‘Ulum dan banyak lembaga pendidikan Islam lainnya di masa kolonial, terbukti merupakan perjuangan yang hebat untuk melahirkan para ulama dan para dai yang berjasa besar dalam menjaga aqidah dan akhlak masyarakat. Dengan itulah, semangat perjuangan rakyat terus menyala dan tak pernah padam, sampai kita berhasil meraih kemerdekaan dan mempertahankannya. (Depok, 30 Agustus 2021).

Editor: Sudono Syueb

banner 300250



banner 300250
No Slide Found In Slider.

News Feed