oleh

Bakesbang Jatim Bakal Gelar Ludruk Kebangsaan, Lakon “Tetesan Darah Anak Negeri”

Harianmerdekapost.com, Surabaya Jawa Timur – Dalam rangka rangkaian Hari Jadi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Ke-75, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi Jawa Timur, akan menggelar Ludruk Kebangsaan dengan lakon “Tetesan Darah Anak Negeri”, akhir November yang akan disiarkan oleh stasiun TV, JTV Surabaya.

Ludruk yang di sutradai oleh Cak Efendi, Cak Joker dan Cak Mahrus Soleh ini, akan menampilkan para pemain Ludruk yang sudah tidak asing lagi di Kota Surabaya, Jawa Timur, dan bahkan Nasional. Sebagai bocoran, para pemain ludruk ini sudah melanglang buana di dunia seni.

Saat pentas nanti, Kepala Bakesbangpol Jatim, Drs. Ec. Jonathan Judianto-MMT, akan berperan sebagai Lurah yang membela tanah air terhadap penjajah Belanda, dan sebagai istri Lurah mendampingi Kepala Bakesbangpol Jatim, yaitu Dr Lia Istifhama M.E.I.

Sedangkan, Moch. Efendi, Yafeti Waruwu dan Mahrus Soleh akan berperan sebagai Belanda yang menjajah Indonesia dan memaksa para rakyat untuk kerja paksa.

Ludruk yang dikemas secara apik dengan mengikuti zaman now ini, akan banyak diselingi dengan lelucon dan jula-juli ala suroboyoan.

“Dengan digelarnya Ludruk ini, tentu untuk ikut mengangkat dan mempertahankan keberadaan kesenian Ludruk sebagai warisan leluhur yang patut kita pertahankan dengan seni dan budaya adat ketimuran,” ucap Cak Efendi.

Adapun sekilas Cerita Ludruk, paparnya, penduduk diseret dan dianiaya oleh para preman bayaran dibawah pimpinan Lurah Abilowo dan Carik Bergowo di kawasan Gempol. Kemudian Van der Park memberikan pundi pundi uang kepada Lurah dan Carik khianat itu.

Lurah Bintoro dan Sutinah istrinya, sedang prihatin akan nasib penduduk yang dipaksa kerja rodi oleh Belanda dengan menggunakan tangan Lurah Gempol yang kejam demi membangun Tretek Porong. Meskipun antara Lurah Bintoro, Sutinah dan Lurah Abilowo seperguruan, tapi menyikapi penjajahan Belanda mereka berseberangan.

Kemudian aatang Van der Park dengan dikawal upas untuk menangkap Lurah Bintoro karena menolak mengirimkan penduduknya untuk kerja paksa membangun jembatan.

Sebelum pergi, Lurah Bintoro menitipkan pusaka kepada Sutinah untuk diberikan kepada putra mereka yang sedang bertapa, Joko Sambang.

Sepeninggal kompeni itu, Lurah Abilowo dan Carik Bergowo bertamu dengan maksud menebar fitnah, memprovokasi, mengancam, merayu. Sutinah kukuh pada pendirian untuk tetap setia pada suami terlebih pada kemerdekaan negara tercinta.

Lurah Bintoro tetap pada pendirian tidak mau bekerja sama dengan penjajah dengan imbalan apapun. Karena sangat marah, akhirnya Van der Park menembak mati Lurah Bintoro

Sutinah diantar bapaknya menemui pertapaan Joko Sambang, untuk diberi tahu kalau bapaknya dibunuh Belanda. Berbekal pusaka yang diberikan ibunya, Joko Sambang menuntut balas.

Penduduk yang kerja rodi dicambuki oleh para centeng. Pada saat itu, Lurah Abilowo dan Carik Bergowo ditemui Joko Sambang. Terjadi adu argumentasi. Kemudian Joko Sambang dikeroyok. Hasilnya, beberapa centeng mati ditangan Joko Sambang termasuk Lurah Abilowo dan Carik Bergowo. Van der Park yang muncul belakangan juga tumpas.

Ludruk yang berdurasi satu jam ini mulai dari latihan sampai pelaksanaan di JTV, tetap mematuhi aturan protokol kesehatan dengan buci tangan, pakai masker dan hand sanitizer. Jangan lewatkan dan tonton jam tayangnya di JTV.

(AR/DAS)

WhatsApp Image 2020-12-03 at 19.37.24
WhatsApp Image 2020-12-03 at 19.37.24 (1)
WhatsApp Image 2020-11-27 at 21.23.40
WhatsApp Image 2020-11-24 at 22.31.54
WhatsApp Image 2020-11-19 at 15.25.59
WhatsApp Image 2020-11-08 at 17.20.03

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed